20 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Survei Opini Publik dan Bandwagon Effect


Survei Opini Publik dan Bandwagon Effect
Ilustrasi

Oleh : Vani Benidictus Tambajong, Golkar Institut Balikpapan

Beberapa Koran lokal ( tanggal 2 Juni 2015), melansir hasil survei dari salah satu lembaga survey terhadap pasangan kandidat calon Walikota Balikpapan dari Partai Golkar atau pasangan calon Walikota Balikpapan. Tidak ada yang salah dalam hasil tersebut, tergantung tujuan survey yang dilakukan. Namun jika ditelisik lebih jauh, hasil survey itu secara tidak langsung akan mendorong terbentuknya bandwagon effect. Ini bisa dilihat dari judul yang diangkat Koran tersebut. Disinilah peran media massa menggiring opini publik.

Masyarakat yang pada awalnya berdiri pada posisi netral berupaya ditarik untuk mengikuti kehendak kepentingan kelompok atau golongan (kandidat) untuk masuk dan memilih pasangan Walikota Balikpapan tertentu. Atau keinginan untuk meraup swing voters dari lawan kandidat atau rival. (sangat lemah sekali jika masyarakat pembaca tak mengetahui prosentasi swing voters survey Partai Golkar Balikpapan).

Meskipun kisaran penggiringan opini publik ini, hanya punya pengaruh antara 2% - 3% saja, secara perlahan akan mengiring opini publik untuk menghindar, menjauh bahkan melompat dari Partai (pasangan calon tertentu) pindah ke Partai yang memiliki kecendrungan elektabilitas tetap atau meningkat. Sesungguhnya hasil survei memiliki muatan yang cukup berharga justru bagi pengambil keputusan dalam penentuan strategi kampanye tim pemenangan Calon Walikota partai Golkar. Tetapi ini tergantung dari materi dan metodologi survei yang dipergunakan.

Hasil survei yang dipublish itu, hanya menampilkan satu jawaban dari satu pertanyaan responden atau hanya secuil warga yang diwakilinya. Tentu sangat sulit untuk diolah untuk menjadi strategi pasangan Calon Walikota Balikpapan. Meskipun satu pertanyaan yang diajukan baik melalui telepon maupun wawancara tatap muka secara langsung, namun profil responden dapat diurai untuk melihat hasil survei lebih dalam.

Misalnya, dari sekian responden dalam katagori usia, siapa yang lebih memilih pasangan A atau pasangan B. Yang mesti diingat bahwa hampir semua metodologi survei, populasi yang dipilih berdasarkan multistage stage random sampling atau teknik penentuan responden lainnya yang didasarkan pada kondisi geografis daeerah : provinsi, kabupaten/ kota, kecamatan dan kelurahan, RT, hingga tingkatan rumah Tangga. Dari penentuan responden yang mewakili populasi itu, hanya sedikit tambahan tentang pembagian proporsional antara populasi perempuan dan laki-laki. Tetapi usia, agama, suku, pekerjaan, tingkat pendapatan tidak terwakili dalam populasi.

Sekedar contoh: anggaplah pasangan A memiliki peluang keterpilihan 30% lebih tinggi dari semua pasangan lain, tetapi setelah ditelisik, bahwa dari 30% responden tersebut, 25% adalah responden berusia antara 50-70 tahun ke atas. Setelah dikonfrontir dengan data BPS dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) kota Balikpapan, pemilih berusia 50-70 tahun ke atas, hanya 15% dari keseluruhan pemilih.

Jadi, kita tidak perlu girang, jumawah atau “kesurupan” dahulu membaca hasil survei itu. Yang baik justru para perancang strategi kampanye, untuk mengarahkan pesan-pesan kampanye ke usia produktif yang memiliki range pemilih lebih luas. Berita Koran lokal tersebut yang banyak memuat pernyataan dan wawancara Petinggi-Petinggi Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur untuk beberapa daerah kabupaten dan kota yang akan bertarung pada Pilkada tanggal 9 Desember 2015 mencerminkan muatan strategi politisi handal.(*)

Reporter : Opini    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0