19 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Opini : Hakikat Puasa


Opini : Hakikat Puasa
Ilustrasi


Kita sangat akrab dengan defenisi puasa yang paling sederhana: menahan makan, minum, hubungan suami istri, dan segala yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Bahkan, kadang kita mengurangi defenisinya lagi menjadi hanya “menahan makan dan minum saja.” Adapun pengertian dari “segala yang membatalkannya,” kita tidak terlalu perduli. Lalu kita melakukan apa saja di siang hari seperti biasa, bedanya hanyalah bahwa kita sedang puasa, sedang tidak makan dan minum seharian. Puasa sesederhana itu saja.

Mulla Shadra, seorang teosof Islam abad 16, membagi wujud manusia berdasarkan tingkatan alam, dari yang paling bawah sampai yang paling sempurna: indrawi (al-hiss), imajinasi (al-khayal), dan akal (al-‘aql). Singkatnya begini, manusia yang memiliki aspek lahir dan batin itu hakikinya berada di atau bisa melintasi tiga alam. Yang paling bawah adalah alam indra yang kental dan terikat dengan unsur-unsur materi dan kebendaan, dan yang tertinggi adalah alam akal. Manusia akan semakin sempurna wujudnya, atau semakin sempurna kualitas kemanusiaannya, jika dia bisa mendaki dari bawah di alam indra sampai ke tingkat tertinggi di alam akal. Dan manusia yang bisa masuk surga dan “bertemu” Tuhan adalah manusia yang berada di tingkat tertinggi itu.

Apa hubungannya dengan puasa? Manusia yang memiliki kecenderungan terhadap materi, paling gampang diidentifikasi melalui makanan, minuman, dan semua kebutuhan jasad. Jika manusia sangat terikat dan bergantung penuh kepada unsur-unsur materi seperti itu, dia hakikinya berada di dan terikat pada alam yang paling bawah. Selama dia tidak bisa “terlepas” (tajarrud) dari materi, maka selama itu juga dia masih akan berada di tingkat bawah dan tidak akan bisa menyempurnakan wujud kemanusiaannya. Dia tak bisa mi'raj. Tanpa sadar, dia hanya berputar-putar di alam paling bawah. Dengan kondisi itu, wujud hakikinya tidak akan pernah menyempurna dan tak akan bisa “bertemu” dengan Sang Maha Sempurna yang “berada” di alam tertinggi. Itulah sebabnya, “keterlepasan” dari materi mestinya menjadi kerinduan fitrawi manusia.

Karena itulah puasa disyariatkan, bukan hanya untuk orang Islam, “tetapi juga untuk orang-orang sebelum kamu” kata Alquran. Puasa dimaksudkan sebagai latihan untuk melepaskan diri dari belenggu materi. Menurut Seyyed Hossein Nasr, perjuangan yang paling berat bagi seorang yang berpuasa adalah menundukkan the carnal soul, al-nafs al-ammarah, jiwa hewan yang menjadi ciri khas alam materi. Nafs al-ammarah-lah yang menjerumuskan manusia, yang menjadikannya seperti hewan dan menggodanya untuk melakukan apa saja yang akan mengantarkannya ke tempat terendah, asfala saafiliin.

Menggunakan defenisi Mulla Shadra, manusia yang berpuasa adalah manusia yang sedang berupaya menyempurnakan wujud lahir dan batinnya untuk mencapai tempat atau maqam tertinggi. Puasa dalam pengertian inilah yang disebut puasa yang sebenar-benarnya, latihan melepaskan diri dari materi. Belajar tetapi tidak disiplin tidak akan mencerdaskan, dan puasa yang juga tidak disiplin tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena itulah Rasulullah pernah mengatakan banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Jika puasa yang kita lakukan hanya memindahkan jadwal makan tanpa mengurangi kuantitas, bahkan menambah kuantitas dan kualitasnya di saat berbuka dan makan sahur, itu berarti keterikatan kita kepada materi masih berada pada level yang sama, bahkan mungkin malah lebih buruk. Dan tentu, kita tidak bisa berharap dari puasa yang seperti ini.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga puasa kita adalah sebenar-benar puasa. Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk melakukan puasa yang menyempurnakan wujud kami, dan puasa yang mendekatkan kami kepadaMu.

Penulis: Mustamin al-Mandary

Facebook: Mustamin al-Mandary (https://www.facebook.com/mustamin14

Twitter: Mustamin al-Mandary (@mustaminmandary)

 

Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0