19 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Breaking News Berita Rekomendasi

Tak Selamanya Kebun Sawit Jadi Neraka Orangutan


Tak Selamanya Kebun Sawit Jadi Neraka Orangutan
Bayi Orangutan yang diamankan BKSDA Kaltim beberapa waktu lalu

Secara tidak sengaja saya bertemu teman lama sekitar dua tahun lalu. Dia  jadi pengusaha sekarang.  Sudah hampir lima tahun, tapi gayanya tidak berubah. Tetap pakai jeans, baju kaos dan naik angkutan kota. Hanya kulitnya yang kian legam. Mungkin karena siangnya lebih banyak dihabiskan di kebun. Menanam dan merawat kelapa sawit bersama matahari.

Namanya Muhammad Askar. Saat itu setahun lagi usianya 30 tahun. Dia menjadi buruh sekaligus pemilik kebun. Tapi, kebun kelapa sawit itu hanya satu dari sekian aktivitas yang digeluti. Sambil menunggu panen sawit, dia menjadi distributor ayam di sejumlah daerah di Kutai Timur.

Saya penasaran ketika dia bicara kebun kelapa sawit. Dia mengaku punya beberapa hektare kebun kelapa sawit di Kelurahan Miau Baru Kecamatan Wahau.

Sekenanya saya bertanya soal Orangutan yang dianggap hama oleh perusahaan sawit. Satwa dilindungi dan nyaris punah itu dinilai tidak bisa hidup berdampingan dengan kebun kelapa sawit. Orangutan dicap sebagai biang kehancuran usaha sawit di sejumlah perusahaan.

Tak heran, jika pembantaian Orangutan di Kutai Kartanegara dan Kutai Timur menjadi sayembara. Jutaan rupiah disiapkan bagi siapa saja yang dapat membunuh Orangutan dengan cara apapun.Bahkan yang baru terjadi, Orangutan Kalimantan Tengah dikonsumsi ramai-ramai setelah dibakar. Yang membuatnya makin mengurut dada, pembantaian itu diproklamirkan lewat media sosial.

Tapi cerita tentang Orangutan yang saya dengar dari Askar berbeda jauh. Semoga dia tidak mengarang cerita agar saya percaya tidak semua kebun kelapa sawit menjadi neraka bagi Orangutan. Askar baru setahun aktif mengurus kebun sawit. Dia merintis lahan yang dibeli dari warga setempat.

"Awalnya saya tidak percaya ada Orangutan. Keluarga saya bilang, nanti kalau ada Orangutan, dia akan sampaikan ada sepupunya, maksudnya saya, mau ketemu," ujarnya lalu tersenyum.

Setelah seminggu menginap di rumah kebun, Askar menemukan seekor Orangutan yang sedang memanjat pohon nangka yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah. "Itu pertama kali saya lihat Orangutan dalam jarak dekat. Besar. Kalau duduk, tingginya sama saya. Kalau berdiri tingginya dua kali lebih besar. Tangannya sampai ke tanah," katanya.

Askar menghindari pohon dengan harapan Orangutan tidak mengganggu. "Saya takut juga. Kata orang kalau diganggu, kita bisa dibawa ke hutan," ujarnya.

Pohon nangka itu hanya satu dari ratusan pohon buah yang ada di sekitar kebun sawit. Orangutan itu kerap datang setiap hari untuk memakan buah di sekitar kebun sawit. "Yang saya lihat hanya Orangutan itu aja. Dia hampir setiap hari datang kalau tidak ada orang yang potong kayu. Dia katanya takut dengar suara chainsaw," ujarnya. (bersambung ke halaman berikutnya)



Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0