19 Januari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Nyanyian Sunyi Kota Nyaman Huni


Nyanyian Sunyi Kota Nyaman Huni
Wahyullah Bandung, Arsitek. (FOTO : Dokumentasi pribadi)

“Ke depan, ada baiknya kita merenungkan kaidah-kaidah pembangunan kota, sebagai magnet harapan, sebagaimana dikemukakan tokoh-tokoh perencana gerakan New Urbanism, yang berupaya menangkal kecenderungan disintegrasi sosial, lunturnya jati diri, dan obesitas kota. (Eko Budiharjo, 2014)”

Sebagai Kota, Balikpapan mengalami perkembangan kota yang sangat cepat dan menarik ditahun 2000-an, masa keemasan batu bara dan migas adalah dinamika yang mewarnai riuh rendah Balikpapan. Saat itu bisnis properti berkembang pesat, investasi mengaliri Kota, Hotel dan pusat perbelanjaan dipenuhi pertemuan dan transaksi bisnis.

Laju investasi disektor swasta itu tidak diikuti dengan laju pembangunan infrastruktur kota. Infrastruktur merupakan tanggung jawab pemerintah guna merangsang bertumbuhnya simpul-simpul baru kota. Meredupnya Tambang dan Migas membuat situasi Balikpapan dihantui tingginya pengangguran, Pemutusan Hubungan Kerja, dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Menurut data Kementerian Tenaga Kerja, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terbesar di Indonesia terjadi di Kalimantan Timur. Per September 2015 saja, dari total 43.085 orang karyawan yang terkena PHK, sebanyak 10.721 atau 25% dari Kalimantan Timur. 7.000 orang terjadi di Kota Balikpapan. Begitu juga pertumbuhan ekonomi Balikpapan tahun 2015 diproyeksi mencapai 3,98%. Proyeksi itu menurun dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 yang mencapai 4,67%.

Balikpapan mengalami kontraksi ekonomi luar biasa pasca berakhirnya kejayaan sektor indusri migas dan tambang batu bara. Sektor ini menghasilkan banyak pengangguran diusia produktif, dan secara tidak langsung menambah beban kota. Balikpapan sebagai kota nyaman huni, perlahan ditinggalkan penghuninya.



Reporter :     Editor : Basir Daud



Comments

comments


Komentar: 0