18 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Agus Bei, Pendekar Mangrove dari Kota Balikpapan


Agus Bei, Pendekar Mangrove dari Kota Balikpapan
Agus Bei menerima penghargaan dari Wakil Walikota Balikpapan sebagai tokoh pemuda Lingkungan

KLIKBALIKPAPAN - Berbicara masalah pohon mangrove, Agus Bei, pria asal Banyuwangi ini cukup lihai menjelaskan secara detail, mulai dari manfaat ekologis hingga secara ekonomi. Meski pendidikan hanya berakhir di SLTA, namun usaha yang telah dilakukannya cukup luar biasa. Bagaimana tidak, kawasan teluk Balikpapan tepatnya di Kelurahan Batu Ampar disulap menjadi hijau. Padahal sebelumnya teluk Balikpapan hanya hamparan lumpur yang tidak berarti.

“Dulu pohon mangrovenya habis dibabat untuk dijadikan lahan tambak,”katanya, sambil menunjuk lokasi mangrove, beberapa waktu lalu kepada KLIKBALIKPAPAN.

Akibatnya, setiap terjadi air pasang, rumah yang berada di pinggiran teluk selalu kebanjiran. Bahkan pada tahun 2000 saat terjadi angin punting beliung, sekitar 300 rumah warga hancur.

“Tiap hari rumah saya dan ratusan rumah warga kebanjiran. Tapi dari sanalah saya belajar mengenai mangrove, browsing di internet, baca buku dan konsultasi, untuk mencari tahu manfaatnya,”ungkap pria beranak dua ini.

Dari hasil belajar kerasnya bertahun tahun tentang mengrove, akhirnya  dirinya memahami dan tanpa pikir panjang langsung  memulai aksinya. Tepatnya tahun 2001, Agus, panggilan akrabnya, melakukan pembibitan mangrove sekaligus melakukan penanaman sebanyak 1000 pohon di lahan seluas 3 Ha hingga tahun 2004. Tidak hanya sekedar ditanam, namun dirawat hingga terus tumbuh dan berbuah.

 “Banyak sekali manfaat mengrove itu, pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, pelindung garus pantai, tempat tinggal ikan. Awalnya memang sulit, banyak cerita miring dari warga, saya dibilang pak RT yang gila dan tidak punya pekerjaan,”ucap pria bertubuh mungil ini.

Kendati demikian, dirinya tetap melakukan pekerjaan itu tanpa ada rasa pamri. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, bahwa suatu saat mereka akan merasakan manfaat yang sesungguhnya dari pohon mangrove. Alhasil sejak tahun 2006, pohon mangrove yang sudah berumur 5 tahun hasil jerih payahnya mulai menujukan hasilnya. Air pasang yang sering menggenangi rumah warga tidak lagi terjadi.

“Tidak hanya itu saja, jenis-jenis ikan juga sudah mulai ada, walau jumlahnya belum banyak,”ungkapnya.

Setelah berhasil mengembalikan lahan itu kembali hijau, dirinya kembali melakukan penanaman pohon sekitar 500 pohon mangrove di lahan 9 Ha. Sebab sebagian pohon mangrove sudah banyak yang mati akibat dirambah warga. “Kita cari mangrove yang mati saja, baru ditanam lagi, sistemnya tanam sulam,”ujarnya.

Hingga saat ini sudah ada 6 ribu pohon mangrove dengan 15 jenis mangrove yang berhasil ditanam pria yang mempunyai tinggi sekitar 160 cm ini. Diantara jenis mangrove tersebut, Avicennia Rumphiana, Rhizophora Apiculata, Lumnitzera Littorea, dan Rhizophora Mucronata.

“Alhamdulillah sudah ada 6000 pohon mangrove yang sudah ditanam di lahan 12 Ha dan semuanya tumbuh dengan baik,”ungkapnya.

Keuletan menanam dan memelihara pohon mangrove yang dilakukannya menjadikan kawasan ini ditetapkan menjadi Mangrove Center oleh pemerintah kota Balikpapan pada tahun 2010 yang bertepatan dengan hari Mangrove Sedunia tanggal 21 Juli. Tidak hanya itu, kawasan ini pun ditetapkan sebagai kawasan objek wisata mangrove di kota Balikpapan. Sejumlah Menteri era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah berkunjung kesini. Diantaranya, Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Mantan Menteri Kehutanan  yang kini ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dan beberapa pejabat lainnya.



Reporter : abdul haris    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0