22 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Berbagi di Hari Fitri


Berbagi di Hari Fitri

Berbagi di Hari Fitri

Oleh DR Oni Sahroni, MA (Dewan Pengawas Syariah LAZNAS  IZI & Anggota Dewan Syariah Nasional - MUI)

 

SEBAGAIMANA namanya, zakat fitrah itu bermakna zakat (sedekah) jiwa. Istilah tersebut diambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim, anak-anak maupun dewasa, laki-laki dan perempuan sebesar 1 sha’ atau 2,176 Kg beras atau dibulatkan menjadi 2,5 Kg sebelum hari raya idul fitri. 

Sebagaimana hadits Rasulullah saw, yang artinya: “Dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata: ”Rasulullah SAW telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ dari kurma atau gandum atas budak,orang merdeka, laki-laki danperempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied.” (HR Bukhari)

Wajib zakat fitrah membayar zakat fitrah pada hari ‘Ied yang berakhir dengan tenggelamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan sampai sebelum shalat ‘Ied (waktu sempit/al-mudhayaq), atau  boleh mendahulukan atau mempercepat pembayaran zakat fitrah dari waktu wajib tersebut, yaitu selama bulan Ramadhan (waktu luas/al-muwassa’).

Kebolehan menunaikannya selama bulan Ramadhan tersebut agar pengelolaan dan manfaat distribusi lebih efektif dan tepat sasaran.Sedangkan waktu distribusi adalah waktu yangmashlahat bagi penerima (mustahik).

Amil berusaha semaksimal mungkin mendistribusikannya para mustahik sebelum shalat ‘Ied, tetapi jika tidak memungkinkan mendistribusikannya sebelum shalat ‘Ied, maka boleh dibagikan setelah shalat ‘Ied.

Hal tersebut berdasarkan beberapa keterangan yang disampaikan Rasulullah saw, yang artinya: “Dari Ibnu Umar:”Sesungguhnya Rasulullah saw. memerintahkan mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR Jama’ah kecuali Ibnu Majah).

Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas Ra. Ia berkata:“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang shaum dari perbuatan sia-sia dan kotor, dan untuk dinikmati oleh orang miskin. Barang siapa membayarnya sebelum shalat ‘Ied, maka ia termasuk zakat yang diterima, dan barang siapa yang membayarnya setelah shalat ‘Ied, maka ia termasuk sedekah.”(HR Abu Daud dan Ibnu majah)

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa penunaian zakat (ta’diyah) dari muzaki kepada amil harus dilakukan sebelum shalat ‘Ied. Sedangkan pendistribusian (tauzi’) dari amil kepada mustahik itu harus diupayakan sebelum shalat ‘Ied.

Tetapi apabila tidak memungkinkan didistribusikan sebelum shalat ‘Ied, maka boleh didistribusikan setelah ‘ied karena ada kesulitan (masyaqqah) untuk menyalurkannya sebelum ‘ied karena lokasi penerima yang tersebar dan berjauhan sedangkan waktu yang tersedia terbatas, dan lain sebagainya.

Realitanya, kaum muslimin di beberapa negara menunaikan zakat fitrah di hari ‘Ied itu sendiri menjelang shalat, maka dapat dipastikan mereka mendistribusikan setelah shalat.

Ketentuan hukum, kadar wajib, dan waktu pembayaran serta pendistribusian itu dimaksudkan (maqashid) agar setiap muslim yang dhuafa bisa menikmati idul fitri dengan gembira karena mendapat bantuan (bekal) yang cukup seperti halnya kaum muslimin yang lain sebagai fakta luhurnya semangat berbagi, mudahnya berbagi, dan padatnya instrumen berbagi dalam Islam.

 

Reporter : IZI Kaltim    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0