18 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Mengenang Penyair Lekra, Bawakan Jarum dan Benang Saja


Mengenang Penyair Lekra, Bawakan Jarum dan Benang Saja…
Almarhum Sutikno WS. (net)

KLIKBALIKPAPAN.CO – “Selamat mengangkasa. Hati-hati di jalan. Salam untuk keluarga di Balikpapan.” Itu adalah SMS terakhir yang dikirim dari Pak Tik ke ponsel saya, sebulan sebelum ia dipanggil Sang Kuasa. Pak Tik, kami biasa menyapanya begitu. Nama aslinya Sutikno Wirawan Sigit alias Sutikno WS.

Saat itu, saya pamit terbang dari Jakarta menuju Balikpapan. Pilihan diksi “selamat mengangkasa”, begitu gurih, apik dan beda dari kebanyakan. Bagi pecinta sastra, khususnya puisi, tentu tidak asing lagi dengan nama: Sutikno WS.

Beliau adalah salah satu penyair Indonesia terbaik era-66 an, era Pulau Buru. Beliau satu karib dekat mendiang Ananta Pramoedya Toer. Lekra atau Lembaga Kebudayaan Sastra, yang lahir 17 Agustus 1950 kerap disandingkan sebagai organ PKI. Padahal, mereka kumpulan jurnalis, seniman dan budayawan.

Sastra Indonesia tidak utuh kalau tidak membicarakan sastrawan Lekra. Karya-karya sastra Indonesia bermutu tinggi banyak lahir dari sastrawan Lekra. Bahkan, pencipta Lagu Garuda Indonesia, salah satu anggota Lekra, Sudharnoto, yang wafat tahun 2000. Ketika era Orba, nyaris anggota yang terlibat dalam Lekra dibui. Dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Begitu pula Sutikno WS.

Di kisaran 2010-2011, nyaris seminggu dua kali selama hampir setahun saya kerap berdiskusi dengan Pak Tik. Banyak hal dibahas. Utamanya menyoal perjalanan sastra di Indonesia. Termasuk membahas bagaimana orang-orang di zamannya dipenjara tanpa proses pengadilan. Mereka ditahan, tidak diadili, tak dijatuhi hukuman. Begitu bebas dari penjara hanya diberi selembar kertas yang menyatakan mereka tidak terlibat G30S/PKI.

Sutikno sendiri salah satu korban yang dipenjarakan rezim Orde Baru tanpa proses pengadilan. Dirinya dipenjara selama 10 tahun. Pak Tik dpindahkan ke beberapa penjara. Padahal, ketika itu ia hanya seorang jurnalis dan sastrawan. Tetapi menjadi korban politik. Tahun 1964, Pak Tik jadi Pemimpin Redaksi Majalah Zaman Baru, majalah seni-sastra Lekra.

Beliau mulai menulis puisi dalam Penjara Salemba pada 1970, di Penjara Tangerang pada 1972, dan di Pulau Buru sejak 1973, hingga dibebaskan tahun 1979. Setelah itu beliau banyak menulis fiksi untuk anak-anak. Tahun 2009 sampai almarhum, beliau Pimred Majalah Poultry Indonesia, Jakarta.

“Ini hasil dari royalti tulisan saya, Mas. Rumah mungil dan mobil tua,” tawanya mengenang, ketika suatu hari saya diajak ke rumahnya di Tangerang. Dulu ia kerap menulis fiksi anak dan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Kemendikbud.

“Dulu penghargaan bagi penulis masih tinggi. Saya bisa dapat rumah dan mobil. Sekarang royalti hanya 10 persen,” ujarnya, menyesalkan minimnya apresiasi bagi penulis. Meski demikian, buru-buru ia menambahkan, “Tetapi menulislah dengan hati, bukan karena mengejar materi. Teruslah menulis  dengan niat berbagi agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Saya banyak menimba ilmu sastra dari beliau. Nyaris tiga hari sekali, saya dibawakan buku-buku tebal sastra klasik. Sering pula buku karya Pramoedya AT. Buku itu dijadikan PR buat saya agar dibaca, usai dibaca beliau bertanya reviewnya, lalu kami mendiskusikannya berdua. Kenangan yang begitu indah. Beliau bukan saja seperti guru, melainkan seperti orangtua. Sederhana, bersahaja, dan rendah hati.

Ketika saya menawarkan menulis kisah hidupnya dalam buku biografi, beliau hanya tertawa. "Saya penyair biasa, Mas," ujarnya merendah. Meski akhirnya didesak dan beliau pun setuju. Sayang, selang sebulan dari persetujuan itu, kabar duka datang. Beliau keburu berpulang. Berikut ini petikan syairnya:

oi hati-hati

hari ini

mereka akan siksa kita lagi

(Sutikno W.S, di Ladang, I).



Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0