26 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Cerita Underground Mbok Yem dan Rekening 506


Cerita Underground Mbok Yem dan Rekening 506

KLIKBALIKPAPAN.CO - Pernah kah kita bertanya: kemana dana subsidi BBM, varian pajak, utang negara? Pernah terpikir: kenapa dulu minyak dunia terperosok tapi harga BBM naik? Kenapa banyak sekali groundbreaking atau peletakan batu pertama tetapi kelanjutannya tidak pernah ada?

Kemana dana-dana itu? Infrastruktur yang dijanjikan tidak terbukti. Bahkan, tol laut yang dijagokan sekadar kapal laut yang dicat dan body kapal itu ditulis besar-besar: TOL LAUT. Lalu, infrastruktur lain babak belur. Terlebih di sejumlah daerah. Jangan tanya kalau di perbatasan dan pedalaman.

Naifnya, daerah kena korban dipangkasnya anggaran. Tetapi statistik dibagus-baguskan, pertumbuhan ekonomi ditinggi-tinggikan. Padahal jauh berbeda dengan kenyataan lapangan. Rentetan PHK massal terjadi, harga-harga naik tak terkendali, sampai-sampai dibuat tax amnesty yang menabrak UU pencucian uang. Dan itu dijajakan, dibuat seolah teror, diiklankan.

Dengan asumsi bisa menarik uang warga Indonesia di luar negeri sebanyak 11.400 triliun, itu sekadar mimpi. Bahkan, target Rp 165 triliun baru tercapai 2,4 persen dari jumlah itu. Sudah ilegal, juga gagal. Padahal tahun 1984 penerapan serupa gagal. Begitu pula banyak negara lain yang gagal. Kenapa masih memaksa? Bahkan menabrak UU pencucian uang.

Agak sulit bahkan mustahil berharap pemerintah jujur. La wong Menkeu Sri akhirnya menemukan temuan janggal di APBN dan akhirnya direvisi. Dampaknya, pemangkasan tak dapat dihindarkan. Sri menilai APBN terlalu optimis, beda dengan kemampuan yang ada.

Nah, dari paparan di atas pertanyaannya kemudian: kemana uang negara selama ini? kemana utang? Kenapa pemangkasan terjadi, kenapa Indonesia makin hancur padahal sumber daya alam melimpah.

Di sini cerita undergroundnya. Mbok Yem, sebut aja begitu, memberitahu semua masalah ekonomi saat ini bermuara pada rentetan masalah yang terjadi 1997-1998. Masalah itu menjadi bom waktu sampai sekarang, bahkan nanti. Kini, ketika dilakukan audit finansial global, banyak negara kelimpungan.



Reporter : Desi    Editor :



Comments

comments


Komentar: 0