20 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Gelombang Kejut Ekonomi Sosial


Gelombang Kejut Ekonomi Sosial
Phoenix.

KLIKBALIKPAPAN.CO – Kerabat memberi informasi: Mahar X untuk Pilgub DKI, puluhan triliun. Tentu saja kabar itu bukan barang baru, terlebih pertarungan Pilgub tersebut di kota paling seksi di Indonesia. Terkejut? Ah puluhan triliun masih relatif kecil. Saking seksinya, mahar bisa menembus ratusan triliun.

Kandidat memang tidak harus memiliki dana sebesar itu, tetapi pemodal di belakangnya. Begitu salah satu cara melihat pertempuran politik. Kita tidak bisa melihat parsial, tetapi utuh. Menelisik gerbong dan lokomotifnya. Baru bisa dilakukan pemetaan. Ini yang terjadi sejak reformasi.

Sejak reformasi pula, pelan-pelan kehancuran demi kehancuran di republik tercinta ini terjadi. Semakin hari, intensitas kerusakannya semakin mengkhawatirkan. Dua tahun terakhir, sengkarut republik makin runyam. Sosial, budaya, hukum, politik, dan segala aspek luluh lantak.

Ini diperparah dengan kondisi global yang tak kalah menyeramkan. Zimbabwe, Yunani, Brazil, Venezuela, Rusia, Mesir, menyusul Cina; sudah dikepung kehancuran ekonomi. Indonesia hanya menghitung hari. Para analis memperkirakan, setahun dua tahun Indonesia mengalami kebangkrutan yang berujung shutdown government.

Sampai kini pun rezim tak peduli menabrak aneka UU dan aturan. Tata kelola negara diacak-acak. Aparat makin represif bahkan dibuat seolah jadi musuh masyarakat. Bangsa ini dibawa pada fase baru: kehancuran demi kehancuran.  Dan semua, sampai hari ini, masih saja dibiarkan.

Menariknya, kehancuran juga menyentuh soal ekonomi. Mungkin, ini puncaknya. Muara masalah politik berpangkal pada masalah ekonomi. Bancakan anggaran, pencucian uang, penggeseran dana, permainan paper bodong, perusahaan abal-abal offshore, perebutan migas, dan semisalnya.

Pada akhirnya terjadi 'pat pat gulipat', dan saling sandera. Masing-masing pihak saling memegang 'kartu as' permainan dan kebusukannya. Lagi-lagi rakyat yang menjadi korbannya. Kebrutalan kebijakan pun dibiarkan. Hanya dibuat ramai sejenak, lalu tenggelam. Begitu seterusnya.

Tetapi, mungkin mereka pura-pura lupa. Tahun depan, automatic exchange of information atau AEoI, sudah diberlakukan di Indonesia. Artinya, semua transaksi keuangan akan terbuka dengan adanya audit global, terutama dengan Foreign Account Tax Compliance ACT atau FATCA.

AEoI yang diinisiasi Organisation for Economic Cooperation dan Development alias OECD, hasil kesepakatan negara yang tergabung dalam G-20. Maka, begitu lucunya ketika ledakan offshore leaks dan Panama Papers terjadi, dunia heboh. Pelaku ketakutan. Audit sudah berjalan.

Ada yang terpaksa mengundurkan diri. Lainnya lari. Tetapi, ditangkap dan dibui. Di Indonesia, malah dibuat UU Tax Amnesty untuk mencoba dilindungi. Jurus itu pun gagal, lalu menyasar rakyat kecil lagi. Meski sekarang diubah, tax amnesty menjadi bahan tertawaan dunia.

Dibuat buru-buru dengan jangka waktu tertentu. Berkejaran dengan deadline AeoI. UU Tax Amnesty itu tampak sekali menjadi aturan serampangan yang memperlihatkan kepanikan. Tak heran aturan itu digugat ke Mahkamah Konstitusi.

Bank Singapura pun melaporkan nasabah WNI yang ikut tax amnesty ke polisi. Bank Singapura tak mau gegabah melawan kebijakan internasional. Di Indonesia malah dibuat ampunan pajak. Sungguh akrobat kebijakan yang lucu. Bahkan uang daerah digerogoti.



Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0