18 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Balikpapan Darurat Perceraian dan Ketahanan Keluarga


Balikpapan Darurat Perceraian dan Ketahanan Keluarga
Ilustrasi. (net)

RUMAH TANGGA IDEAL, penuh ketenangan dan kasih sayang di antara anggota keluarga menjadi dambaan setiap insan. Kendati demikian, faktanya kadang keinginan tersebut sulit terwujud. Bahkan saat ini tidak sedikit rumah tangga yang kemudian berujung pada perceraian.

Dilansir dari Klikbalikpapan, kasus perceraian di Balikpapan terus meningkat. Tahun 2015, ada 1.460 kasus perceraian. Dan tahun ini, baru sembilan bulan sudah tembus 1.535 kasus. Dari jumlah itu kasus perceraian didominasi gugatan istri.

Hakim Pengadilan Agama Balikpapan, Rusinah memaparkan, dari kasus yang ditangani PA Balikpapan sepanjang tahun 2016 terdiri dari kasus cerai gugat yang tembus 744 kasus. Sedangkan untuk cerai talak sebanyak 324 kasus.

Jadi..."Dari seluruh kasus perceraian sepanjang tahun 2016 sebagian besar gugatan cerai dari istri," tutur Rusinah, menyesalkan.

“Fenomena yang terjadi saat ini memang  terbalik. Kalau dulu yang dominan suami menceraikan istri, kini prosentase perceraian yang lebih banyak adalah atas inisiatif istri yang menggugat cerai suaminya,”

Klik Juga: Ngeri, Gugatan Cerai Istri di Balikpapan Lebihi 700 Kasus

Tingginya angka perceraian, termasuk pergeseran tren perceraian yang dominan diajukan pihak istri, menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa dan ada apa?

Sebab, selama ini biasanya kaum wanita malah tidak mau diceraikan, walau banyak masalah yang menerpa, mereka tetap mempertahankan mati-matian rumah tangganya. Ketakutan perempuan ini lebih disebabkan ketidaksiapan  ekonomi, sosial dan psikologis.

Lazimnya wanita merasa malu menyandang status janda, apalagi jika sudah memiliki anak. Belum lagi beratnya konsekuensi yang harus mereka tanggung seperti menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak yang biasanya ikut ibu, karena umumnya anak-anak lebih dekat kepada ibunya dibanding ayahnya.

Dari beberapa sumber didapatkan, faktor utama terjadinya perceraian adalah ketidak harmonisan suami istri. Itu terjadi ketika suami istri tidak memahami kewajiban dan hak masing-masing. Selain itu ada faktor eksternal yang menyerang keluarga Muslim, yaitu arus serangan Barat yang merusak pemikiran umat dengan ide sekulernya.



Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0