19 Januari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pak Wali, Tolong Ajari Kami


Pak Wali, Tolong Ajari Kami…
Ilustrasi. (net)

Publik dikejutkan pernyataan Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, dalam Musrenbang Pemkot, 22 Maret 2017. “Sebenarnya kondisi kita saat ini dalam kondisi bangkrut.” Begitu lontaran Pak Wali, yang dalam sekejap jadi lahapan media massa. Menjadi perbincangan sakartis warga.

Entah lontaran itu bentuk kejujuran, kepasrahan, atau keluhan tak berujung. Tahun 2016, Walikota Rizal juga berkali-kali mengeluhkan pemangkasan anggaran. Defisit menjadi andalan untuk mengelak dari ketidak berdayaan menjumpai solusi. Cermin kebuntuan berkreasi.

Betul, sejak tahun 2014 krisis keuangan telah menapak jejak. Bahkan, menggurita ke pelbagai negara. Yunani, Rusia, Zimbabwe, Brazil, Mesir, Venezuela, dan beberapa negara lain jatuh. Gurita krisis moneter itu mengular ke Indonesia, lalu ikut menggoyang keuangan Kaltim, tak terkecuali Balikpapan. Tentang krisis ini, September 2016 saya pernah mengulasnya dalam tulisan lain di media ini dan media nasional.

KLIK JUGA: Gelombang Kejut Ekonomi Sosial

Tapi, apa lantas bisa menjadi sebuah alibi bagi kita mengangkat tangan? Tunggu sebentar.

Kita menjejak ke daerah lain. Di saat krisis menerpa, Bupati Batang, Jawa Tengah, periode 2012-2017, Yoyok Riyo Sudibyo justru memperoleh Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015. Kenapa bupati lulusan Akademi Militer 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira 2004, itu, dianugerahi penghargaan tersebut?

Selain dikenal dekat dengan warganya, saat krisis ia mampu membawa Batang keluar dari guncangan. Di tahun 2015, jumlah penduduk Batang di kisaran 800 ribu jiwa lebih. Tahun yang sama, penduduk Balikpapan kisaran 700 ribu jiwa. Jumlah penduduk Batang, lebih banyak.

Menyoal potensi sumber daya alam, tahun 2012, Batang hanya bertumpu pada industri tekstil, pariwisata, perikanan, dan sumber daya standar. Potensi menonjol yang diunggulkan masih kalah jauh dibanding yang dimiliki Balikpapan. Begitu pula jumlah APBD.

Membandingkan Balikpapan dan Batang secara apple to apple, Balikpapan jelas lebih unggul. Tapi, mari simak data ini: Tahun 2012, pendapatan asli daerah Batang hanya Rp 67 miliar. Tahun 2014, PAD Batang melonjak jadi Rp 186 miliar. Diharapkan di 2017 menjadi lebih dari Rp 200 miliar. Melesat 300 persen.

Tak heran, Bupati Yoyok yang dikenal sebagai Mayor Edan bisa menyabet penghargaan bergengsi di tahun 2015, bersama mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini aka Bu Risma. Apa rahasianya? Kedekatan pada warga, keterbukaan, kepiawaian mengelola anggaran. Itu beberapa kemampuannya.

Saat kepala daerah Balikpapan mengeluh, Yoyok malah meloncat pesat. Anggaplah Walikota Rizal berdalih kebangkrutan anggaran lantaran krisis yang terjadi sejak tahun 2014. Yuk, sekarang kita cermati bagaimana daerah lain pernah bangkrut, jauh sebelum krisis menerpa.

Masalah kebangkrutan anggaran pernah menerpa Aceh, sampai-sampai gagal bayar gaji PNS yang sudah teralokasi di komponen DAU 2011. Aceh, bangkit. Tahun sama, NTT diterpa masalah utang bermiliar-miliar, lalu bangkit.

Ketidakberesan pengelolaan Rp 777 miliar juga pernah menerpa di 13 kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Begitu pula defisit anggaran di Bangka Belitung ratusan miliar di tahun anggaran berjalan. Masalah keuangan sering menerpa daerah lain, jauh sebelum krisis menerpa. Lantas, mereka bangkit.

Jika dikecurutkan,  masalah keuangan daerah bermuara pada: buruknya tata kelola anggaran. Ini terjadi merata, sampai hari ini. Bukan karena krisis global atau nasional.

Tahun 2011, Manajer Hubungan Eksternal Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah, Robert Endi Jaweng pernah menuliskan peta masalah keuangan daerah. Di antaranya, selain penyelewengan anggaran secara hukum, esensi masalah pengelolaan APBD di era desentralisasi ini juga berdimensi teknokratis berupa maladministrasi, misalokasi hingga rendahnya daya serap anggaran.



Reporter :     Editor : Cika Anggraeni



Comments

comments


Komentar: 0