19 Agustus 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Tragedi Afi dan Revolusi Mental Jokowi


Tragedi Afi dan Revolusi Mental Jokowi
Artikel Revolusi Mental, yang pernah muncul di dua koran berbeda, juga penulis beda. (net)

KLIKBALIKPAPAN.CO – Netizen ramai membicarakan soal tulisan Afi, siswi kelas XII SMA di Banyuwangi, yang kontroversial. Mengaku Muslim tapi bersikap sekuler. Berjilbab tapi nilai yang dibawanya liberal.

Bisa jadi ia hanya korban dari design busuk perusakan generasi. Dengan dukungan media corong dan pejabat segerbong, memuluskan darling roti instan untuk segera disuguhkan.

Ia terkenal lewat tulisannya di akun Fb nya, bertajuk: Warisan. Pemilik nama Asa Firda Inayah atau lebih dikenal Afi Nihaya Faradisa, diusulkan Ketum PKB Cak Imin sebagai Duta Pancasila.

Hari ini, 1/6/2017, ia pun diundang Jokowi ke Gedung Pancasila, Kemlu, untuk menghadiri Upacara Hari Lahir Pancasila. Di depan media ia berselfie ria dengan pria yang terkenal melalui Esemka.

Sejak beberapa hari lalu Afi dihembuskan melakukan hal blunder dalam etika kepenulisan.

Netizen melacak jejak-jejak digitalnya. Gegerlah jagat maya. Afi diduga kuat melakukan plagiat dari tulisan yang diakui miliknya.

Netizen membeber, akun Fb Afi Nihaya Faradisa, yang menulis artikel di statusnya berjudul: Belas Kasih dalam Agama Kita, 25 Mei 2017, sama dengan akun lain.

Yakni, akun Mita Handayani, yang konon kerap mendukung LGBT. Mita menulis artikelnya bertajuk: Agama Kasih, 30 Juni 2016. Nyaris setahun sebelum tulisan Afi muncul. Kini, akun Afi pun ditutup pemiliknya.

Tragedi Afi dan kegaduhan plagiarisme serupa yang lebih heboh sempat ramai tiga tahun silam. Persis di bulan Mei juga. Masih ingat revolusi mental yang digemakan Jokowi?

Waktu masih capres, ia sempat blunder dengan gagasan itu. Sejak jadi media darling dalam episode Esemka sampai Monas Raya, Jokowi tak pernah dikenal sebagai penulis produktif. Bahkan sebagai penulis pun tidak.

Tapi tiba-tiba saat nyapres, tulisannya mencuat di Kompas, dengan tulisan yang amat panjang.

Nah, di situlah blundernya. Di hari yang sama muncul tulisan serupa, judul sama, di koran berbeda, penulisnya juga tidak sama. Yakni Romo Beny.

Dikutip dari Voa-Islam, 12 Mei 2014, media itu mengangkat judul: Lelucon Jokowi & Romo Benny, Siapa Plagiat 'Revolusi Mental' di Kompas & Sindo.

Kutipannya, "Artikel opini berjudul sama 'Revolusi mental' ramai dibicarakan karena dimuat di dua media koran nasional yakni Kompas dan Sindo dengan judulyang sama yakni Revolusi Mental yang diterbitkan pada edisi Sabtu 10/5/2014."

Benny sendiri menulis artikelnya di koran Sindo. Jokowi menulis artikelnya di koran Kompas. Keduanya, menulis dengan judul yang sama: Revolusi Mental.

Menurut pastor dan aktivis pendiri Setara Institute ini, artikel Revolusi Mental yang ditulisnya sudah dikirim tiga minggu sebelum diterbitkan.

"Tulisan saya sudah dikirim tiga minggu sebelumnya. Tidak tahu, kok baru keluar Sabtu kemarin, dan berbarengan dengan tulisan Jokowi di Kompas," tegasnya. Demikian Voa Islam mengabarkan.

Tak lama kasus itu booming, mencuat rumor jika Romo Beny masuk dalam lingkaran tim sukses Jokowi. Entah tingkat validisi rumor itu bagaimana.

Tindakan plagiat adalah hal menggelikan. Bahkan, melanggar hak cipta. Tapi di zaman teknologi canggih ini agak sulit menghindari plagiat, terutama bagi mereka yang malas membaca. Apalagi jarang menulis. Maunya instan. Begitu pula saat skripsi.

Kendati demikian, praktik copas ada yang sengaja, ada pula yang memang tak tahu cara mengutip, ada juga yang lupa menulis sumbernya.

Pada dasarnya kita adalah produk-produk imitator, yang sulit menghindari karya orang lain. Perbedaannya ada pada niat, kejujuran, modifikasi, pengakuan hak orang lain.

Kita bukan pemikir besar, apalagi penemu. Nah tapi kita masih punya nurani. Apakah niatnya tulus, masih punya kejujuran, mau menghargai karya orang lain, atau sebaliknya.

Jika masih tentu saja menghindari plagiat. Apalagi memproklamirkan karya orang lain sebagai karya sendiri. Jelas saja itu memalukan diri dan menjengkelkan bagi pembuat karya.

Bukan seperti Afi, apalagi peristiwa artikel: revolusi mentalnya mantan Wali Kota Solo yang tak menuntaskan periode kepempinannya itu. Apakah Afi salah satu hasil warisan revolusi mental? Mengikuti permintaaan pasar ehem? Entah.

Tapi dari kasus Afi dan revolusi mental itu, kita telah diberi contoh tragedi mengenaskan dalam dunia kepenulisan.

Terlebih Afi sendiri pernah mengingatkan tentang copas dan plagiat.

Ia pernah mengingatkan, "Ketika kau mengopas tulisan seseorang, sesungguhnya kau tidak menghargai si penulis asli. Karena, sekali lagi, menulis itu tidak segampang yang kau bayangkan," tulis Afi.

Dan di kemudian hari, wanita Banyuwangi berusia 18 tahun itu, kemakan ucapannya sendiri. Innalillahi.

Saat wartawan bertanya soal tulisannya yang dikampanyekan media corong, Afi terburu-buru. Ia berdalih itu urusan pribadinya.

Afi memang pernah melihat akun Mita, yang belakangan status yang diduga diplagiat itu menghilang dari dinding Fb nya. Tapi Afi mengaku tak tahu siapa Mita.

"Mita Handayani itu sebenarnya akun siapa?" kata Afi. Ia mengaku pernah membaca tulisan dari Mita Handayani. "Dulu banget sih pernah. No more comment," tandasnya, dilansir Detik, 1/6/2017.

Ia berdalih telah ditunggu stasiun televisi untuk siaran langsung. Dueng. Benar-benar luar biasa corong. Mewariskan pola Esemka?

Eh, apa plagiat itu juga warisan, seperti tudingan Afi soal agama hanya warisan? Semoga jadi pelajaran. Semoga Afi bisa diluruskan.

Bisa jadi ia hanya korban, satu bentuk pembusukan generasi Islam. Popularitas instan melalui karya pihak lain, yang serupa dengan Esemka.

Omong-omong, pak Jokowi kok gak ngirim tulisan panjangnya di media lagi? Apa kabar APBN, uang cetak baru yang ehem, lonjakan utang di tengah kebisingan riuh rendah kegaduhan? Shutdown government, kapan sih? Eeehhh...

Shalaallahu alaa Muhammad.

Penulis: Faiqa Hamda, pemerhati sosial. 

Reporter : Nina Kaharwati     Editor : Akbar Barbara



Comments

comments


Komentar: 0