17 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Skandal Vaksin di Filipina Ancam Ribuan Nyawa


Skandal Vaksin di Filipina Ancam Ribuan Nyawa
Masyarakat Filipina berunjuk rasa menolak program vaksin. (AP)

KLIKBALIKPAPAN.CO – Filipina diguncang skandal vaksin demam berdarah yang justru membuat kondisi penderita semakin buruk. Masyarakat turun ke jalan memprotes peredaran dan program vaksin tersebut.

Kantor Kepresidenan Filipina memastikan seluruh pihak yang bertanggung jawab akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kementerian Kesehatan setempat atau DOH, telah resmi menghentikan penggunaan vaksin DBD yang diproduksi Sanofi. Penghentian dilakukan setelah pihak perusahaan meminta dilakukan pembatasan penggunaan karena ditemukan beberapa bukti mereka yang terjangkit DBD akan semakin parah.

“Kami memastikan semua yang bertanggung jawab atas skandal memalukan ini, yang menyebabkan hidup ratusan ribu anak muda dalam bahaya, akan segera dituntut pertanggungjawabannya,” ujar juru bicara Kepresidenan Filipina, Harry Roque, dilansir Reuters, 4/12/2017.

Lebih dari 730 ribu anak-anak mendapat suntikan vaksin Dengvaxia tersebut sepanjang 2016. Program imunisasi tersebut dilakukan sesuai rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO untuk negara-negara dengan penyakit endemik seperti halnya Filipina.

Sejumlah peneliti mengakui vaksin Dengvaxia tidak sempurna serta tidak mampu melindungi dalam taraf sama untuk empat tipe virus berbeda. Vaksin itu sebetulnya mampu melindungi pasien yang pernah terjangkit DBD.

Namun, bagi mereka yang belum pernah terjangkit justru rawan terinfeksi sejumlah penyakit dalam jangka panjang.

Roque menerangkan, sejauh ini memang belum ada laporan infeksi DBD cukup parah sejak dilakukan program imunisasi itu. Kendati demikian, Menteri Kesehatan Fransisco Duque memastikan pihaknya akan melacak rekam medis ribuan anak-anak yang diimunisasi serta meningkatkan pengawasan demi memastikan layanan kesehatan terbaik didapatkan pasien.

Reporter : Nina Kaharwati/ Okz    Editor : Revo Adi Merta



Comments

comments


Komentar: 0