25 Mei 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Data Kemenkes Sebut Cakupan Imunisasi Tinggi, Kasus Difteri Malah Tinggi


Data Kemenkes Sebut Cakupan Imunisasi Tinggi, Kasus Difteri Malah Tinggi
Statistik Pusat Data dan Informasi Kesehatan, Kemenkes RI 2016, Situasi Imunisasi di Indonesia, laman 5, menunjukan: Makin tinggi cakupan imunisasi, makin tinggi kasus difteri. (Kemenkes)

KLIKBALIKPAPAN.CO – Penyakit difteri dikabarkan menyerang Indonesia. Vaksinasi disebut sebagai satu-satunya upaya pencegahan. Benarkah demikian? Klikbalikpapan, mengulasnya untuk Anda.

Dalam dokumen Kemenkes RI yang diperoleh Klik, data menunjukan sebaliknya. Semakin tinggi cakupan imunisasi justru tinggi pula kasus difteri.

Pusat Data dan Informasi Kesehatan, Kemenkes RI 2016, Situasi Imunisasi di Indonesia, laman 5, misalnya. Data yang dihimpun Ditjen P2P 2016, menunjukan statistik mencengangkan.

KLIK JUGA: MUI: Vaksin untuk Difteri Belum Punya Sertifikasi Halal

Dalam tabel bertajuk: Cakupan Imunisasi DPT dan Jumlah Kasus Difteri di Indonesia, tahun 2007-2015, merinci data sebagai berikut: tahun 2007 cakupan DPT3 data rutin sebesar 90,6 persen. Jumlah difteri total ada 183 kasus. Tahun 2008, cakupan imunisasi 91,4 persen, kasus difteri sebanyak 219 kasus.

Tahun 2009, cakupan imunisasi 93,48 persen, ada 189 kasus difteri. Tahun 2010 cakupan 94,94 persen, ada 385 kasus. Tahun 2011 cakupan 94,9 persen, ada 806 kasus difteri. Tahun 2012 cakupan 100,9 persen, ada difteri sebanyak 1.192 kasus. Tahun 2013 cakupan 99,3 persen, difteri 767 kasus. Tahun 2014 cakupan 95 persen, ada 394 kasus.

KLIK JUGA: Kejanggalan tentang Vaksin, Program dan Keampuhannya

Dalam statistik yang dikeluarkan Kemenkes di atas, justru terlihat jelas. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin tinggi kasus difteri.

Bahkan di tahun 2012, misalnya, cakupan 100 persen, tapi kasus difteri malah melonjak menjadi 1.192 kasus. Padahal di tahun 2011 hanya 806 kasus, dengan cakupan imun lebih rendah yaitu 94,9 persen. Begitu pula tahun 2013, cakupan imunisasi lebih rendah dari 2012, kasusnya ikut turun.

Cakupan imunisasi bayi lengkap 2016 meningkat dibanding 2015. (Kemenkes)

Bagaimana dengan data lain? Kemenkes menetapkan kebijakan ORI atau vaksinasi massal di tiga provinsi: Jakarta, Jatim, dan Jabar. Alasannya, tiga provinsi itu banyak yang terkena difteri.

KLIK JUGA: Gurihnya Bisnis Raksasa Vaksin

Padahal, menurut data Kemenkes sendiri, tiga daerah itu memiliki cakupan imunisasi bayi lengkap yang sangat tinggi pada 2016. Bahkan, meningkat dibanding tahun 2015.

Tapi, kenapa semakin tinggi cakupan imunisasi bayi lengkap, justru kasus difterinya tinggi hingga ditetapkan KLB?

Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2015 dan 2016, Kemenkes RI, menyebut: Jakarta cakupan imunisasi bayi lengkap (2015), sebanyak 97,87 % lalu 2016 naik menjadi 102,8%.

Jawa Timur (2015) sebanyak 98,43%, lalu tahun 2016 cakupan masih di atas 95 persen, yakni 98,1%. Jawa Barat (2015), sebanyak 82,48%, tahun 2016 cakupan naik jadi 92,2%. Kenapa cakupan imunisasi dasar bayi lengkap di tiga provinsi itu naik malah ditetapkan KLB dan ORI, awal? Kenapa makin tinggi cakupan imunisasi bayi lengkap justru kasus difteri tinggi?

Bahkan, masih data Kemenkes RI, juga menyebut: cakupan imunisasi bayi secara nasional ikut naik setiap tahun. Tahun 2013 cakupan imunisasi bayi nasional 89, 86 persen, tahun 2014 sebesar 86,9 persen. Tahun 2015 cakupan imunisasi 86,5 persen, lalu tahun 2016 melonjak menjadi 91,1 persen.

Lantas, tahun 2017 ada vaksinasi MR, Oktober dilakukan bulan imunisasi anak sekolah, November malah ditetapkan KLB. Ada apa dengan kandungan vaksin? Kenapa semakin tinggi cakupan vaksinasi, semakin tinggi kasus difteri?

KLIK JUGA: Kenapa Cakupan Imunisasi Balikpapan 100 Persen Tapi KLB Difteri?

KLIK JUGA: KPAI Ungkap Belasan Pasien Difteri Status Imunisasinya Lengkap

Reporter : Sutopo    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0