20 Februari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sofyan Hasdam, Sang Cagub Spesialis Saraf dan Penulis Produktif


Sofyan Hasdam, Sang Cagub Spesialis Saraf dan Penulis Produktif
Sofyan Hasdam bersama sang istri dan cucu keempatnya. (Klik)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang. Demikian Imam Syafii mengingatkan.

Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia, per 9 Mei 2016, jumlah dokter 110.720 orang, artinya satu dokter melayani 2.270 penduduk.

Sedangkan data Kemenkes, per Desember 2015, rasio dokter spesialis di Indonesia yakni 12,6 per 100.000 penduduk.

Dokter, terlebih dokter spesialis termasuk deretan profesi yang seksi. Digandrungi, tetapi amat sulit memiliki ilmu dan gelar professional ini.

Nah, ada yang menarik dari percaturan politik di Kaltim tahun ini. Dari empat calon gubernur, salah satunya berkarir sebagai dokter spesialis saraf.

Bisa ditebak siapa orangnya: ya, dialah Andi Sofyan Hasdam. Di Pilgub Kaltim 2018, ia berpasangan dengan Wakil Walikota Samarinda Nusyirwan Ismail.

Masyarakat Kaltim mengenal pasangan ini dengan sapaan akrab: An-Nur, akronim dari Andi dan Nusyirwan.

Andi Sofyan, yang juga penulis buku: Merekat Keluarga Sakinah, remaja kampung asal Makassar yang memiliki darah Masyumi.

Sejak kecil lekat dengan kegiatan dakwah, sekaligus dunia keilmuan dan politik. Ia tumbuh dalam keluarga cendikia, agamis, nasionalis.

Baginya, menyelami Bumi politik dan dunia professional sebagai dokter spesialis, bak dua mata sisi uang. Keduanya diselami bersamaan, hasilnya: terbilang sukses dan moncer.

Buah hati dari Haji Andi Sewang alias Daeng Muntu Hasdam, ini, sejak bayi diboyong ke Jakarta.

Tumbuh kembang Sofyan sejak kecil akrab dengan politik. Sebab, ia kerap mengikuti aktivitas sang ayah yang pernah menjadi anggota DPR-RI dari Masyumi, hasil pemilu tahun 1955.

Pria kelahiran Makassar 4 Februari 1956, ini, tumbuh berpindah-pindah saat Komunis melakukan upaya pemberontakan. Andi Sofyan Hasdam, diboyong orangtuanya dari Jakarta ke Makassar.

Ketika pecah pemberontakan Partai Komunis Indonesia alias PKI, semua orang Masyumi dikerjar-kejar PKI.

"Akibat pemberontakan PKI, ayah saya memutuskan kami sekeluarga kembali ke Makassar. Karena ayah saya merasa belum aman, kami pindah lagi ke Kecamatan La Baka, Kabupaten Pangkep," kenang Andi Sofyan Hasdam, dalam catatan Kompas, 10 tahun silam, 17 Januari 2008.

Selama menjalani kehidupan di La Baka, Andi Sofyan menjadi remaja kampung yang sibuk dengan aktivitas keilmuan: pagi sekolah formal, sorenya menimba ilmu agama.

Dari situlah Andi Sofyan meraup bekal-bekal berdakwah. Sedangkan ayahnya berkutat di panggung perpolitikan. Sang ayah kemudian menjabat Ketua Pimpinan Muhammadiyah Sulawesi Selatan Tenggara.

Kesibukan ayahnya yang sering rapat organisasi, kerap dihadiri Sofyan. Ia menyadari darah politik sang ayah mengalir dalam dirinya.

Namun di usia belia, Andi Sofyan ditinggal mentor politiknya. Ketika menginjak SMP, sang ayah yang juga mentornya, berpulang ke Haribaan Sang Maha. Ia menjadi anak yatim.

Andi Sofyan belajar politik sambil jalan. Ia bergabung dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia, PII. Kepiawaian berpolitik terus digalinya dari pelbagai organisasi.

Salah satunya, terjun dalam Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI ketika kuliah. Ilmu percaturan politik makin dikuasainya.

Tetapi, cita-citanya sejak kecil sebagai dokter, tetap diseriusinya. Uniknya karena kepiawaian politiknya itu, meski bukan cita-citanya, ia malah diamanahkan menjadi Walikota Bontang dua periode: 2001-2006 dan 2006-2011.

Amanah tersebut dipikulnya dengan sungguh-sungguh. Melalui bekal kepiawaian politik dari masa kecilnya, tangan dingin Andi Sofyan pun berhasil membesarkan Kota Bontang.

Kota ini disulapnya dari daerah biasa yang sepi menjadi salah satu kota metropolis yang terkenal di Kaltim. Kebijakannya diapresiasi masyarakat.

Kala itu, Sofyan gencar membangun Kota Bontang dengan empat pilar: Bontang Sehat 2008; Bontang Cerdas 2010; Bontang Lestari 2010; dan Bontang Bebas Kemiskinan 2020.

Sederet prestasi dan penghargaan pun diraih. Salah satu yang paling gress adalah Millenium Development Goals Award untuk kategori pemerintah kota.

Hal yang menarik, di tengah kesibukannya sebagai Walikota Bontang, Sofyan masih menyempatkan diri berkarir sebagai dokter bahkan sering memeriksa pasien di rumah sakit.

Dalam perjalanan karir professionalnya, Andi Sofyan pernah menjadi staf pada bagian penyakit saraf di RSUD AW Sjahranie, Samarinda.

Sofyan berujar, dalam ilmu kedokteran tidak ada teorinya. Katanya, Manusia itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

"Orang-orang baik, jika berada dalam lingkungan narkoba tidak lama pasti orang itu bisa jadi pemakai narkoba," pesannya. Ia pun mewanti-wanti kalangan muda agar tak salah dalam memilih lingkungan.

Lantas, apa yang membuat dirinya bercita-cita menjadi dokter?

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, ini, mengenang, "Melihat dokter berpakaian putih dan bersih, membuat hati saya semakin teguh untuk menjadi dokter," tutur Sofyan.

Ia melanjutkan, "Bahkan, ketika saya naik mobil dan melewati fakultas kedokteran depan masjid raya di Makassar, saya selalu berdoa ya Allah mudah-mudahan bisa sekolah di sini. Menjadi walikota bukan cita-cita dan tidak pernah mimpi sedikit pun," kenang Sofyan.

Lalu apa yang mendorongnya memilih spesialisasi saraf? Alasannya, gangguan saraf akan menjadi penyakit masa depan masyarakat Indonesia.

Penyakit parkinson, stroke, rematik, akan mendominasi masyarakat Indonesia pada usia-usia tua.

Ia bilang, "Ilmu politik dan ilmu kedokteran sama-sama sulit. Tapi keduanya adalah seni yang indah," tandas suami dari Neni Moernieni.

Memang, kariernya di pentas politik terbilang sukses. Apa kuncinya? Belajar dari orang lain yang lebih hebat.

Sofyan mengagumi mantan Perdana Menteri Inggris, Margareth Teacher. "Margareth Teacher bisa mengubah Inggris. Mengubah perilaku masyarakat dan manajemen di Inggris," ujarnya.

Sedangkan tokoh nasional yang menjadi idolanya yakni mantan Presiden BJ Habibie.

Asam garamnya di dunia politik, menjadikan Sofyan dikenal sebagai politisi gaek. Ia tokoh senior di tubuh Beringin Kaltim, yang memiliki koneksi amat luas.

Bahkan, di Golkar Pusat, dekat dengan Agung Laksono, Abu Rizal Bakrie, Mahyudin, dan Hetifah.

Saat aktivitasnya diisi kesibukan membangun Kota Bontang, Andi Sofyan, tak hanya tetap sibuk mengobati pasien sebagai amanah professionalnya di kedokteran.

Namun, ia masih pula menyempatkan waktunya mengikat ilmunya melalui torehan tujuh buku yang menginspirasi banyak orang. Di antaranya, berjudul: Dari Los Palos ke Benua Etam, 2005.

Tak terasa, takdir kembali menjumpainya dengan percaturan politik. Kini, bersama Nusyirwan melenggang menjadi pasangan Cagub Cawagub Kaltim 2018.

Bagaimana tanggapan Neni Moerniaeni ketika suaminya didapuk menjadi Cagub Kaltim 2018?

Neni sang istri, tak terkejut menanggapi pencalonan Sofyan Hasdam di Pilgub ini. Alasannya, "Memang jalan hidup Bapak banyak di dunia politik, pernah jadi Walikota Bontang dua periode. Pengurus inti Partai Golkar dan pemimpin berbagai organisasi kemasyarakatan," tutur Neni, 28/1/2018.

Neni mengaku meneteskan air mata kala Sofyan Hasdam menulis sendiri visi dan misi untuk pencolanannya sebagai Kaltim 1. Bahkan, ide brilian Sofyan sempat dibukukan kala masih duduk sebagai Walikota Bontang.

"Saya sempat meneteskan air mata melihat Pak Sofyan menulis sendiri visi misinya. Sebagai seorang istri, saya harap ilmu dan kemampuan bapak bisa bermanfaat bagi kemajuan Kaltim," harap Neni.

Andi Sofyan dan Neni dikaruniai tiga buah hati dan empat cucu. Kendati keduanya sibuk dalam aktivitasnya, berbagi waktu untuk keluarga tetap diprioritaskan. Tak terkecuali dalam pesta demokrasi tahun ini.

Andi Sofyan-Nusyirwan diputuskan oleh DPP Partai Golkar, melalui suratnya bernomor R-680/Golkar/I/2018 tertanggal 8 Januari 2018. Surat itu, ditandatangani Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekjen Idrus Marham.

Ketua Tim Pemenangan An Nur, Muhammad Husni Fachruddin, menargetkan pasangan ini bisa mendulang 700 ribu suara dari jumlah DPT sekitar 2.566.552.

"Ini target minimal. Apalagi didukung relawan An Nur dan relawan Rita. Kemudian para loyalis, simpatisan militan, dan mesin-mesin partai," tutur Ayub, sapaan akrab Husni, 26/1/2018.

Kini, kiprah pasangan An Nur ini bersiap mencurahkan ilmu dan kepiawaiannya membangun Kaltim.

Bagaimana takdir selanjutnya? Masyarakat Kaltim yang bakal menentukan. Waktu yang menjawabnya.

Tentang Sofyan Hasdam:
Nama: dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S
TTL: Makassar 4 Februari 1956
Isteri : dr.Hj. Neni Moerniaeni, SpOG

PENDIDIKAN:
1962 1967: SD Negeri I Labakkang
1968 1970: SMP Negeri I Labakkang.
1971 1972: SMA Negeri Pangkajene, tapi tidak sampai selesai dan dilanjutkan di SMA Negeri 3 Ujungpandang.
1972 1973 : SMA Negeri III Ujungpandang.
1974 1981 : Fakultas Kedokteran Unhas dilanjutkan di Fakultas Kedokteran Unair, karena kala itu Unhas belum memenuhi persyaratan untuk mendidik.
1987 1988: Penyelesaian Pendidikan Dokter SpesialisSaraf di Fakultas Kedokteran Unair.

KARIR PROFESSIONAL:
1982-1983: Dokter Puskesmas Lospalos Timor Timur.
1983-1984: Pj. Kepala Cab. Dinkes Kab. Lautem Timor Timur.
1983-1984: Pj. Kepala BKKB Kabupaten Lautem Timor Timur.
1988-1997: Staf pada Bagian Penyakit Saraf RSUD A Wahab Sjahranie Samarinda.
1990-1998: Tenaga Pengajar Luar Biasa pada SPK Depkes dan SPK Dirgahayu Samarinda Kaltim.
1990-1995 : Dosen Luar Biasa pada AKPER Pemda Kaltim.
1991-1994: Kepala Bidang perencanaan & Diklat RSU A. Wahab Sjahranie Samarinda.
1996-2007: Dosen Luar Biasa pada AKPER Muhammadiyah Samarinda.
1998 -1991: Anggota DPRD Kaltim.
1999: Ketua SMF Penyakit Syaraf RSU A. Wahab Sjahranie Samarinda.
1993: Dokter spesialis purna waktu pada rumah sakit PT. Pupuk Kalimantan Timur. Bontang.
1994: Dokter penasehat Depnaker Kalimantan Timur.
2001-2005 : Walikota Bontang.
2006- 2011 : Walikota Bontang.
2017-kini: Plt Ketua Golkar Kaltim.

BUKU:
1. Komparasi Kebijakan Publik dan Praktek Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kota Bontang (2004).
2. Merekat Keluarga Sakinah.
3. Dari Los Palos ke Benua Etam (2005).
4. Bontang Bebas Kemiskinan 2020 (2006).
5. Bontang Cerdas 2010 Memadukan Kuantitas & Kualitas Pembangunan (2006).
6. Bontang Sehat 2008: Mengutamakan Kesehatan Lingkungan & Perilaku Sehat (2007).
7. Bontang Lestari 2010: Meningkatkan Mutu Lingkungan melalui Partisipasi Masyarakat (2007).

Reporter : Dicky Sera    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0