22 Juli 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sengkarut Lingkungan jadi Fokus Paslon AN Nur


Sengkarut Lingkungan jadi Fokus Paslon AN Nur
Pasangan AN Nur menjawab sengkarut lingkungan. (dok)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Salah satu yang menjadi fokus pasangan Cagub Cawagub Kaltim, Sofyan Hasdam - Nusyirwan aka AN Nur yakni sengkarut masalah lingkungan.

Perubahan iklim global yang memicu perubahan cuaca di seluruh dunia menjadi polemik di pelbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebagai salah satu kandidat Cagub Kaltim 2018, pasangan An Nur memberi perhatian lebih terhadap masalah lingkungan ini.

Bahkan, sebagai bentuk komitmennya, Sofyan Hasdam pernah mengikuti langsung pertemuan Conference of The Parties atau COP to The United Nations Framework Convention On Climate Change ke-23 di Bonn Jerman dari tanggal 8 -14 November lalu.

Menurut Sofyan Hasdam, pertemuan ini diikuti sekitar 300 kepala negara dan pemerintahan serta politisi yang mewakili negara masing-masing. Total peserta pertemuan dihadiri sekitar 40 ribu orang delegasi dari seluruh dunia, termasuk dirinya.

Sofyan berujuar, COP23 ini bukanlah pertemuan biasa saja. Ia menerangkan, asal-muasal pertemuan ini berawal dari kegelisahan  para ahli lingkungan dan kepala-kepala negara utamanya negara maju, tentang terjadinya pemanasan suhu bumi.

"Sehingga tahun 1988, badan PBB untuk lingkungan United Nation Environment Programme dan organisasi meteorology dunia World Meteorology Organization mendirikan sebuah panel  antar pemerintah untuk perubahan iklim yang disebut Intergovernmental Panel On Climate Change atau IPCC," jelas Sofyan.

Peserta terdiri dari sekitar 300 lebih pakar perubahan iklim dari seluruh dunia. Sofyan melanjutkan, tahun 1990 dan 1992, IPCC memprediksikan bahwa penggandaan jumlah gas rumah kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah sosial, ekonomi dan sistem alam di dunia.

"Selain itu, IPCC memprediksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga memberi kontribusi pada gas rumah kaca alami dan akan menyebabkan atmosfer bertambah panas," ingatnya.

Ia menjelaskan untuk menindaklanjuti pembicaraan mengenai perubahan iklim dan pemanasan global, maka PBB membentuk lembaga untuk negosiasi para pihak termasuk COP yang pertama dilaksanakan di Berlin pada tahun 1995.

"Setiap pertemuan COP, merumuskan bagaimana membuat kesepakatan atau langkah bersama agar tidak terjadi kenaikan suhu bumi," papar Sofyan.

Artinya, lanjut Sofyan, bagaimana mengurangi terbentuknya gas rumah kaca di atmosfer.

"Disinilah alotnya perdebatan, karena hal ini menyangkut keinginan dari semua negara untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya demi tercapainya kepentingan bersama," katanya.

Sofyan mencontohkan, untuk menurunkan jumlah emisi di seluruh dunia, maka semua negara harus menurunkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan negaranya.

"Dengan kata lain, pengorbanan terbesar diharapkan datang dari negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat, Jepang, negara di Uni Eropa, Rusia dan Australia."

Sebaliknya, emisi dari Indonesia sebenarnya kecil. Namun, karena besarnya perhatian Indonesia pada masalah ini, maka turut pula berkomitmen menjaga iklim global.

Sofyan berujar, pasangan An Nur pun sangat konsen terhadap seluruh masalah lingkungan. Salah satu komitmen itu dituangkan dalam misinya melakukan transformasi lingkungan.

"Yakni menciptakan pembangunan wilayah di Kaltim yang lestari dan ramah lingkungan," tutur Sofyan.

Ia sendiri, sejak tahun 2007, telah menuangkan pokok pikirannya untuk memikirkan ulang prioritas pembangunan Kaltim di masa depan.

Pokok pikirannya itu, dituangkan Sofyan Hasdam dalam salah satu bukunya bertajuk: Visi Baru Kaltim 2025. Buku setebal 588 halaman ini, ke depan, akan diulas di media ini.

Reporter : Nina Karmila    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0