20 Februari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Aduh, Ada Kebun Sawit dan Nanas Di TNK


Aduh, Ada Kebun Sawit dan Nanas Di TNK
Orang Utan Ditengah Kebun Sawit (Doc: Klikbontang)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Kondisi hutan Taman Nasional Kutai (TNK) mencakup 3 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, semakin memprihatinkan. Dalam kurun waktu 24 tahun terakhir sejak 1990-an, luasnya menyusut sekira 6.500 hektare. Permukiman dan perkebunan, jadi potret paling nyata telah mengepung hutan TNK.

Balai TNK melansir, hasil citra satelit yang dilakukan tahun 2014 lalu, luas hutan TNK tersisa sekitar 192 ribu hektare dari 198.629 hektare di tahun 1990-an. Maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan menjadi penyebabnya.

Perhatian serius yang diberikan bukan tanpa alasan. Kebun sawit dan buah-buahan, jadi ladang mata pencaharian masyarakat, di sepanjang jarak 60 kilometer ruas jalan kota Bontang menuju Sangatta, Kutai Timur.

"192 Hektare di antaranya, di dalam hutan TNK, ada kebun sawit dan kebun lainnya. Kebun sawit jadi perhatian kami. Di samping itu memang, itu menjadi andalan mata pencaharian. Kami cari solusi terbaik, agar fungsi hutan TNK benar-benar bisa pulih," kata Kasi Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNK Dede Nur Hidayat di Samarinda, Kamis (8/2/2018).

Ada 2 seksi pengelolaan TNK mengawasi areal TNK baik di Kota Bontang, Kabupaten Kutai Kartanegara hingga kabupaten Kutai Timur. Selain itu, areal TNK juga terbagi 4 resor, di antaranya resor Teluk Pandan, yang menjadi areal ditemukannya orangutan yang tertembus 130 peluru senapan angin.

"Resor Teluk Pandan seluas 40 ribuan hektare. Yang jelas lahan APL (area penggunaan lain) bukan jadi perhatian kami," ujar Dede.

"Orangutan itu bergerak mobile. Orangutan dan manusia, ada kepentingan. Korbannya ya orangutan. Tapi dari kami, giat patroli, penyuluhan dan edukasi itu sudah rutin kami lakukan," katanya.

Berdasarkan pantauan, sepanjang perjalanan dari Bontang menuju Sangatta, di sisi kiri dan kanan jalan, begitu ramai permukiman yang sebelumnya adalah areal hutan TNK yang rimbun. Ditambah lagi, perkebunan sawit, nanas dan kebun lainnya.

"Ya, ada kebun sawit dan nanas, kebun lainnya ada sekian hektare," sebut Dede.

Kasus konflik orangutan dan manusia disertai alasan begitu klasik. Orangutan kerap dianggap hama bagi warga yang memiliki kebun sawit, yang telah merusak kebun mereka. Meski, Orangutan bergerak hanya mencari makan, mengingat habitatnya yang rusak terlebih dulu.

Itu dibuktikan, dengan kematian orangutan jantan yang masih berusia 5-7 tahun, ditemukan di danau kecil yang dikelilingi kebun sawit dan nanas, di Desa Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur. Dari hasil autopsi, ada 3 biji buah sawit di saluran pencernaan Orangutan itu. (*)

Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0