25 April 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Diselidiki Polisi, Ada Lagi Siswa SD Wafat usai Disuntik Vaksin Difteri


Diselidiki Polisi, Ada Lagi Siswa SD Wafat usai Disuntik Vaksin Difteri
Orangtua korban vaksin meminta polisi memeriksa petugas yang menyuntik anaknya. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Kesekian kalinya korban cedera vaksin terjadi lagi sampai menghilangkan nyawa korban.

Kali ini musibah menimpa Nazwa Fahira Andrean, siswa SDN 1 Rawa Buntu, Tangerang Selatan. Ia dilaporkan meninggal setelah disuntik vaksin difteri. Kasus tersebut, kini menjadi perhatian polisi.

Informasi kematian Nazwa beredar di media sosial sejak akhir pekan kemarin.

"Innalillahi wainna ilaihi rajiun telah meninggal dunia ananda Nazwa Fahira Andrean, 23 Februari 2018, siswi kelas 4B SDN 1 Rawa Buntu, malam tadi di Puskesmas Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan," tulis pesan berantai di pesan WhatsApp, Minggu, 25/2/2018.

Dari pesan berantai itu, diinformasikan sebelum meninggal dunia, almarhumah disebutkan diberi suntik vaksin difteri.

Pesan tersebut juga mengingatkan agar orangtua dan tenaga kesehatan lebih peka terhadap kesehatan anak dan keamanan vaksin.

"Buat para orang tua, dokter, mantri atau perawat, dimohon memastikan kondisi anak-anak sebelum diberikan imunisasi difteri. Jangan sampai ada kesalahan prosedur karena kondisi kesehatan anak," ingat pesan tersebut.

Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Alexander mengatakan, pihak kepolisian setelah informasi seorang siswi meninggal dunia usai divaksin difteri langsung melakukan pengecekan.

"Benar, dipimpin Panit Reskrim kami lakukan pengecekan terkait kematian siswa SDN 01 Rawa Buntu yang viral meninggal seusai disuntik difteri II, pada hari Sabtu tanggal 24 Februari 2018," tegas Alex.

Dia menerangkan, berdasarkan hasil pengecekan itu, pihaknya memeriksa sejumlah saksi.

Namun begitu, polisi mengaku belum menetapkan adanya tersangka. "Kami belum bisa pastikan itu, karena pihak keluarga belum bisa dimintai keterangan, karena masih syok," ujar Alex.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan kota Tangsel, Tulus Muladiono mengaku telah mendatangi keluarga dan pihak puskesmas Rawa Buntu.

Tulus memastikan korban memang mengikuti program vaksin difteri di Puskesmas Rawa Buntu. Keterangan itu diamini Kepala Puskesmas Rawa Buntu, Hartono.

"Dari catatan kami almarhumah tercatat mengikuti difteri I di Puskesmas Rawa Buntu, untuk difteri II datanya masih dicari," kata Hartono.

Ia menyebut pihak keluarga juga belum bisa dimintai informasi lengkap ihwal tempat korban diberi vaksin difteri II, karena masih dalam suasana berduka.

"Kami belum bisa tanyakan detail pada pihak orangtua terkait vaksin difteri II dilakukan dimana," katanya.

Mendengar informasi adanya jatuh korban susulan usai divaksin difteri, Noura orangtua korban yang anaknya juga meninggal dunia setelah diberi vaksin difteri sangat prihatin.

"Sampai kapan ini dibiarkan. Korban demi korban berjatuhan tapi tetap saja programnya dilanjutkan. Jangan sampai para dokter atau nakes kehilangan anak seperti saya, baru kemudian sadar ada yang salah dengan vaksin," tuturnya, Senin, 26/2/2018.

Ia pun mengaku telah kehilangan kepercayaan atas penyelidikan kasus tersebut.

"Apa masih bisa dipercaya? Dulu waktu anak saya meninggal setelah mendapat vaksin difteri juga didatangi pihak Puskesmas dan polisi. Tapi malah diminta tanda tangan surat agar keluarga tidak boleh menuntut," ungkapnya.

Bahkan, ia melanjutkan, "Kami tidak diberi tahu siapa petugas yang menyuntik anak saya. Kenapa ditutupi?" kesalnya.

Ia mengingatkan agar orangtua perlu berpikir ulang sebelum memberi vaksin. "Kalau program ini benar kenapa ditutupi. Kasus anak saya tau-tau sudah ada diagnosa, padahal belum klarifikasi pada keluarga. Ada apa ditutupi, kenapa kami malah diintimidasi," bebernya.

Sebelumnya, Founder Halal Corner, Aisha Maharani turut menekankan sengkarut program vaksin. Salah satunya terkait kehalalan.

"Halal Corner menginformasikan baru tiga jenis vaksin yang sudah jelas kehalalannya," ujar Aisha.

Ia pun mengingatkan bagi seluruh pihak agar tidak lagi menyesatkan masyarakat dengan menyebarkan informasi klaim halal sepihak.

"Taat UU lah. Jangan hanya kepentingan sesaat, halal diklaim sepihak. Ikuti aturan UU JPH," tegasnya.

Ia mengingatkan, Indonesia seharusnya malu dengan luar negeri dalam hal industri halal global. "Negara non Muslim saja peduli terhadap kehalalan. Kenapa kita yang mayoritas Muslim malah kalah," sindirnya.

Aisha merinci, ketiga vaksin halal tersebut, yaitu Group ACYW135 Meningococcal polysaccharide Vaccine atau vaksin Meningitis, MENVEO Meningococcal Group A,C, W135, Y Conjugate vaksine, dan produk vaksin Menivax ACYM.

Dengan demikian, tegas Aisha, "Vaksin MR dan difteri belum jelas kehalalannya. Bahkan hal ini telah disampaikan MUI berkali-kali," tegasnya.

Reporter : Sutopo/ Int    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0