23 Juli 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Menghentikan Abused-Abuser Cycle pada Kasus Pandu


Menghentikan Abused-Abuser Cycle pada Kasus Pandu
Illustrasi

Nama Pandu Dharma Wicaksono (Padarwin) kembali ramai dibicarakan masyarakat Kota Balikpapan pasca dibebaskan dari tahanan Polda Kaltim. Berbagai pihak masih menyayangkan proses hukum yang lamban. Hingga membuat proses penahanan Pandu selama 120 hari berakhir. Dan Pandu pun akhirnya dipulangkan dengan status tersangka

Hal ini sontak membuat netizen Balikpapan heran sekaligus was-was. Heran karena tiba-tiba pelaku yang sempat membuat heboh Balikpapan karena dianggap mencoreng nama baik Kota Beriman sudah bebas tanpa menjalani proses pengadilan yang semestinya. Was-was karena pelaku yang sudah melecehkan 8 orang remaja laki-laki itu bebas berkeliaran dan ditakutkan akan kembali memakan korban selanjutnya. Pelecehan seksual pada para korban dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan jangka panjang berupa dampak psikologis, emosional,fisik dan sosialnya; termasuk penyakit psikologis di kemudian hari. Juga ada dampak mengerikan lainnya yaitu siklus pedofilia, abused-abuser cycle. Ihshan Gumilar, peneliti dan dosen Psikologi Pengambilan Keputusan menjelaskan yaitu berawal dari korban (abused) pelecehan seksual di masa kecil, lalu tumbuh dewasa jadi orang yang memakan korban (abuser).KPAI Balikpapan pun telah menyurati Jaksa Agung dan Kapolri, berharap agar kasus ini ada perkembangan secara signifikan. Semua pihak tentunya menuntut agar pelaku,  terlepas dari background prestasi yang dimilikinya, berharap agar keadilan dapat ditegakkan bagi para korban. Dan tentunya memberikan efek jera bagi pelaku dan orang-orang yang melihatnya. 

Pelecehan seksual yang dilakukan Pandu sebenarnya merupakan praktek homoseksual, secara luas kita menyebutnya LGBT, karena para korbanya sudah remaja dan bukan anak-anak lagi. Pedofilia dan LGBT merupakan penyimpangan seksual yang harus dihilangkan dari masyarakat.

Islam sebagai sebuah pandangan hidup tentu mampu memberikan solusi atas permasalahan ini. Solusi yang sifatnya mencegah, menghentikan pelaku sekaligus menyelesaikan permasalahan penyimpangan seksual yang sedang mendera kota tercinta ini. 

Dalam Islam, solusi pertama adalah pembinanan keimanan setiap individu, ini dilakukan oleh individu itu sendiri, masyarakat dan juga negara. Semuanya bertanggungjawab dalam membina dan menjaga keimanan, karena keimanan adalah benteng pertama yang bisa menghindarkan atas semua penyakit kemaksiatan. Kedua, secara sistemik negara pun harus ikut campur untuk  menghilangkan pornografi dan pornoaksi yang melibatkan media cetak ataupun elektronik. Ketiga, pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai hukum syara yang memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah bagi yang belum melakukan. Hal ini didasarkan kepada hadits Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda: ”Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya” (HR. Al-Khomsah kecuali an-Nasa’i).  

Ketika ini diterapkan maka tidak ada celah bagi pelaku untuk mempublikasikan diri sebagai kaum LGBT, ataupun mengopinikannya. Justru yang ada mereka akan takut dan meninggalkan dunia LGBT karena negara pun membantu meluruskan keimanan kaum gay. Hanya saja, semua ini tidak bisa dilakukan jika kita hanya mengambil sebagian hukum Islam. Jika kita benar-benar peduli akan nasib para generasi penerus, maka sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh meminta agar Islam diterapkan secara sempurna dalam setiap aspek kehidupan. Wallahu’alam bish shawab.

 

Penulis : Risna Sari, S.E (Guru Sekolah Tahfizh SD Khoiru Ummah Balikpapan)

Reporter :     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0