22 Juli 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ekowisata, Industri dan Masa Depan Balikpapan


Ekowisata, Industri dan Masa Depan Balikpapan
Wahyullah Bandung. (dok)

Ekowisata bentuk wisata yang mengadopsi prinsip pariwisata berkelanjutan yang membedakannya dengan bentuk wisata lain (Deklarasi Quebec, Damanik dan Weber, 2006:38).

Industri migas dan batubara yang menjadi tumpuan sebagian besar warga Balikpapan perlahan tapi pasti memudar dan tak lagi menjadi primadona. Lebih dari 3.600 pekerja dirumahkan terkait berakhirnya masa kontrak bagi hasil pengelolaan blok minyak dan gas bumi oleh PT Total E&P Indonesie di Kutai Kartanegara.

Setelah kontrak antara Total dan SKK Migas berakhir. PT Pertamina (Persero), operator baru yang telah ditunjuk pemerintah mengambil alih Blok Mahakam per 1 Januari 2018. Bukan hanya 3.600 orang yang terkena imbas berakhir kontrak tersebut. Sebab untuk eksplorasi dan eksploitasi migas di Blok Mahakam, PT Total E&P Indonesie yang bermitra juga menggandeng banyak kontraktor. Jumlah keseluruhan pekerja terkait Blok Mahakam diperkirakan 20 ribu.

Kondisi ini diperparah lagi dengan keuangan sebagian besar APBD pemerintah daerah di Kalimantan Timur 40-70% Kaltim berasal dari dana perimbangan sumbangan sektor migas. Industri migas dan pendukungnya, mendominasi 75% ekonomi Kaltim, akan tetapi industri migas hanya mengabsorbsi tenaga kerja sebesar 1%. Bandingkan dengan sektor pertanian yang bisa menyerap 34% tenaga kerja.

Indonesia begitu kaya, memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui, 16% reptilia dan amphia, 17% burung, 25% ikan, dan 15% serangga, walaupun luas daratan Indonesia hanya 1,32% seluruh daratan di dunia.

Hewan Indonesia juga memiliki kedudukan istimewa di dunia, dari 500-600 jenis mamalia besar (36% endemic), 35 jenis primata (25% endemik), kemudian sekitar 59% dari luas daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis atau sekitar 10% dari luas hutan yang ada di dunia (Stone, 1994).

Konsep   ekowisata   di   dunia   pertama   kali diperkenalkan  pakar  ekowisata  yang  telah  menggeluti perjalanan alam yakni Hector Ceballos dan Lascurain.  Definisi ekowisata pertama kali di perkenalkan organisasi wisata The Ecotourism Society pada tahun 1990,  yang menyatakan bahwa perjalanan yang bertanggung  jawab  ke  areal  yang  masih  alami  untuk menjaga   lingkungan  dan menopang kesejahteraan masyarakat.

Dalam prakteknya bentuk ekowisata secara aktif menyumbang kegiatan konservasi alam dan budaya, melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan wisata serta memberikan sumbangan positif terhadap kesejahteraan mereka.

Ekowisata juga bisa dilakukan dalam bentuk wisata independen atau diorganisasi dalam bentuk kelompok kecil. Dengan kata lain, ekowisata adalah bentuk industri pariwisata berbasis lingkungan yang memberikan dampak kecil bagi kerusakan alam dan budaya lokal sekaligus menciptakan peluang kerja dan pendapatan serta membantu kegiatan konservasi alam itu sendiri.

Keanekaragaman  hayati  merupakan daya  tarik  utama  bagi pangsa pasar ekowisata sehingga kualitas, keberlanjutan dan pelestarian SDA, peninggalan sejarah dan budaya menjadi sangat penting untuk pengembangan ekowisata. Ekowisata juga   memberi peluang sangat  besar  mempromosikan  pelestarian keanekaragaman hayati di tingkat internasional, nasional maupun local.

Pada  dasarnya  pengetahuan  tentang  alam  dan budaya serta daya tarik wisata kawasan dimiliki masyarakat setempat. Karena itu pelibatan masyarakat   menjadi mutlak, mulai tingkat  perencanaan  hingga  tingkat pengelolaan.  Ekowisata bisa meningkatkan kesadaran dan apresiasi  terhadap  alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

Ekowisata memberi nilai tambah kepada pengunjung dan masyarakat dalam   bentuk pengetahuan dan pengalaman. Nilai tambah ini mempengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan  pengembang  pariwisata  agar sadar  dan  lebih  menghargai  alam,  nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya.

Kenyataan memperlihatkan kecenderungan meningkatnya permintaan terhadap produk ekowisata di tingkat internasional dan nasional. Hal ini disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berperilaku positif terhadap  alam, dan minat untuk  mengunjungi kawasan yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai sejarah dan budaya setempat.

Ekowisata juga memberi peluang mendapat keuntungan  bagi  penyelenggara, pemerintah  dan  masyarakat  setempat,  melalui kegiatan-kegiatan yang non-ekstraktif, sehingga meningkatkan  perekonomian  daerah  setempat.

Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata mewujudkan ekonomi berkelanjutan. Pengembangan  ekowisata  pada  mulanya  lebih banyak dimotori oleh LSM, pengabdi masyarakat, dan lingkungan. Hal ini lebih banyak didasarkan pada   komitmen   terhadap upaya  pelestarian  lingkungan,  pengembangan ekonomi, pemberdayaan  masyarakat  secara berkelanjutan. 

Namun  kadang  kala  komitmen itu tidak disertai dengan pengelolaan yang profesional, sehingga tidak sedikit kawasan ekowisata yang hanya bertahan sesaat. Sementara pengusaha swasta belum banyak yang tertarik menggarap bidang ini, karena usaha  seperti  ini  dapat  dikatakan masih  relatif baru dan kurang diminati karena harus memperhitungkan biaya sosial dan ekologi dalam pengembangannya.

Kota Balikpapan adalah salah satu daerah yang memiliki beberapa lokasi ekowisata. Namun tidak menarik untuk dikunjungi. Hal itu disebabkan karena kurangnya promosi dan pengetahuan masyarakat tentang potensi ekowisata.

Wakil Menteri Singapura Massagos Zulkifli menilai bahwa kota Balikpapan belum maksimal menawarkan obyek wisatanya kepada wisatawan,  karena masih terfokus pada pendapatan asli daerah di sektor jasa terkait industri pertambangan dan migas. Hal tersebut karena kurangnya promosi destinasi wisata yang ada di kota Balikpapan.

Mangrove Center Graha Indah Balikpapan adalah contoh ekowisata yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan potensi-potensi alam yang dimiliki Balikpapan. Ekowisata Mangrove Center telah memberikan manfaat wisata, lingkungan, dan pendidikan.

Setiap bulan sekitar  1.000 orang wisatawan lokal dan mancanegara mengunjungi Mangrove Center. Pengelolanya sendiri telah mendapatkan penghargaan Kalpataru tahun 2017 untuk usaha melestarikan lingkungan mangrove dan sekitarnya.

Perlu usaha yang lebih aktif mengajak masyarakat membangun ekowisata berbasis potensi alam disetiap daerah, juga mengemas dan memasarkan potensi ekowisata tersebut. Mangrove Center secara nyata ikut mempertahankan Ruang Terbuka Hijau Balikpapan, meningkatkan volume pengunjung untuk ekowisata, pendidikan dan penelitian, meningkatkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung, memberi sumbangan Pendapatan Asli Daerah, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal dan warga Kota Balikpapan. Sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan ekowisata secara berkelanjutan di Indonesia.

Industri Ekowista kedepan bisa menjadi Industri baru Kota Balikpapan yang akan menghidupkan kembali perekonomian Kota Balikpapan, asal dikelola, dikemas, dan dipasarkan dengan baik dan profesional.

Penulis: Wahyullah Bandung. Praktisi Arsitek & Perencana Kota, Mahasiswa Program Studi Manajemen Perkotaan di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin, Makassar

Reporter : Niken     Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0