17 Februari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Bahagia di Kampung Kota


Bahagia di Kampung Kota
Wahyullah Bandung.

Ciri-ciri kota sakit adalah kota yang pemerintahnya koruptif, pebisnisnya opurtunis, dan intelektualnya apatis (Ridwan Kamil, Arsitek, dan Walikota terpilih kota Bandung).

Studi lembaga pengkajian the New Economics Foundation, memperlihatkan  kebahagiaan suatu masyarakat, tak harus terkait kekayaan dan tingkat pengeluaran yang tinggi suatu kota. Survei ini mengukur indeks kebahagiaan masyarakat di 178 negara.  

Indeks ini disusun berdasar tingkat pengeluaran masyarakat, usia harapan hidup, tingkat kebahagiaan. Bukan dengan tolok ukur kesuksesan ekonomi suatu negara seperti produk domestik bruto .

Orang Indonesia berada di urutan ke 23, mengalahkan negara adidaya Amerika Serikat di peringkat 150 atau negara tetangga Singapura di urutan ke 140. Sedangkan secara nasional indeks kebahagiaan orang di Jakarta hanya 46,20, lebih rendah dari indeks kebahagiaan masyarakat yang tinggal di Semarang (48.74), Makassar (47.95), Bandung (47.88), Surabaya (47.19), dan Medan (46.12).

Survei ini memberi gambaran masyarakat Indonesia bahagia meski tidak kaya secara materi (infrastruktur kota). Belum ada survei yang mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat kota-kota di Kalimantan Timur, tetapi jika melihat sikap masyarakat yang “menikmati”  banjir rutin bertahun-tahun di Balikpapan dan Samarinda, saya mengira mereka cukup bahagia.

Karena ketika banjir dan pasang datang, masyarakat pasrah dan tersenyum mencuci kendaraan, mahasiswa dan kaum intelektual memilih bersikap apatis. Tidak ada demonstrasi mahasiswa yang menuntut kenapa kotanya bisa banjir? kenapa saluran besar di tengah kota untuk mengatasi banjir tak segera dibangun? Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, dan tidak mengganggu indeks kebahagiaan kehidupan masyarakat Kaltim.

Kota-kota diIndonesia memiliki potensi kampung kota. Kampung-kampung tematik seperti kampung lontong, dan kampung daur ulang di Surabaya, kampung batik di Solo, dan kampung kreatif di Bandung, memberi contoh kampung-kampung kota bisa menjadi pijakan dalam merencanakan pengembangan sebuah kota.

Kota Samarinda memiliki kampung Samarinda Seberang yang bisa dikembangkan menjadi kampung batik di sepanjang tepian Sungai Mahakam karena tidak dimiliki kota-kota lain. Kota Balikpapan memiliki kampung nelayan/kampung ikan di Manggar, dan kampung atas air Margasari di Kampung Baru.

Perkembangan ini, memunculkan paradigma baru tentang visi perencanaan dan perancangan kota. Kota-kota Indonesia lebih baik tumbuh secara organik dari kampung-kampung kota. Selama negara belum mampu memberikan hak bermukim yang layak bagi warganya, konsep kampung kota dengan keunikan wujud dan nilai-nilai sosialnya adalah solusinya.

Saat ini, sekitar 70 persen penduduk kota tinggal di kampung-kampung kota. Perencanaan kota-kota di Indonesia harus melihat kampung sebagai bagian yang tak terpisahkan. Kampung juga membantu warga kota yang miskin dengan kekuatan ruang kehidupan.

Kampung-kampung kota dibangun dengan optimisme, boleh miskin tapi tidak sedih. Kampung-kampung kota akan memunculkan kota yang tidak menakutkan, tidak macet, dan layak untuk semua usia. Permasalahan kota bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan dan budaya. Ilmu pengetahuan adalah perencanaan dan perancangan kota yang melibatkan berbagai disiplin ilmu/multi disiplin semisal planologi, arsitektur, sipil, lansekap, dan komunitas-komunitas budaya kreatif kampung kota.

Kita tidak bisa menghentikan pembangunan supermall, pusat perbelanjaan, atau pasar modern di sebuah kota, tetapi pemerintah bisa mengendalikan dengan inovasi, dan melibatkan komunitas-komunitas kreatif masyarakat. Inovasi itu tumbuh dari kekayaan budaya lokalitas kampung kota.

Kebiasaan meniru patung merlion Singapura untuk dipasang di taman kota-kota di Kalimantan Timur musti dihentikan, karena kita memiliki kekayaan patung tradisional yang indah dan beragam.

Menjadi tugas bersama membangun kota untuk menjadi lebih sehat dan livable. Kota-kota di Kaltim mustinya mendudukkan kampung kota sebagai bagian dari wajah masa depan Kaltim. Tentu dibarengi peningkatan kualitas fisik, kualitas nilai sosial, dan nilai kreativitas kampung kota. Mampukah kita?

Penulis: Wahyullah Bandung, Arsitek dan Penikmat Kota

Reporter : Lisa Kamila    Editor :



Comments

comments


Komentar: 0