22 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Takut KIPI dan Haram, Orangtua di Balikpapan Tolak Anaknya Divaksin


Takut KIPI dan Haram, Orangtua di Balikpapan Tolak Anaknya Divaksin
Vaksin. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Sejumlah orangtua di Balikpapan menolak anaknya diberikan vaksin MR atau Rubella.

Halimah, warga MT Haryono Dalam Balikpapan, mengakui enggan anaknya diberi vaksin. Ia sendiri tahu saat ini telah digelar program vaksin MR atau Rubella di sekolahnya.

Namun Halimah khawatir anaknya menjadi korban kejadian ikutan paska imunisasi atau KIPI.

"Iya, mulai awal bulan sudah tahu. Tapi saya tak mau. Takut, Mas. Sepupu saya di Jawa jadi korban tapi malah disalahkan. Padahal sebelum divaksin seger burger," tuturnya, Jumat, 3/8/2018.

Karena kisah dari sepupunya itu, Halimah menahan diri untuk memberi izin anaknya divaksin. "Kalau tanggung jawab sih gak apa-apa. Ini malah disalahkan. Akhirnya orangtuanya juga yang repot," sesalnya.

Halimah mengaku tiga anaknya telah dilakukan imunisasi. Namun paska jatuhnya korban di Jawa tahun lalu, ia berpikir ulang untuk memberi anaknya vaksin.

Saat ditanya kandungan vaksin, Halimah geleng kepala. "Tidak pernah dikasih tahu. Ya gak tahu saya isi vaksin apa saja. Bilangnya sih baik, tapi sepupu saya malah diopname, jadi bimbang. Takut juga," ujarnya.

Ia mengatakan bukan anak sepupunya saja yang jadi korban, namun banyak korban lain yang sakit sampai meninggal dunia usai diberi vaksin.

"Di media juga banyak, Mas. Makanya saya takut. Siapa yang mau anaknya jadi korban setelah divaksin. Mas mau? Silakan saja kalau mau, saya enggak," tuturnya dengan nada sedikit meninggi.

Lain Halimah, lain lagi Tika. Warga Gunung Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan, enggan memberi izin anaknya divaksin lantaran masalah status kehalalan.

"MUI sudah jelas, Mas. Tegas. Belum diuji, belum halal. Orangtua mana yang mau ngasih anaknya yang haram, apapun itu," tegas Tika.

Menurutnya, masih banyak alternatif selain vaksin. "Memangnya Allah menciptakan obat cuma vaksin. Orangtua kita terdahulu itu kan ahli pengobatan tradisional, ya ikut orangtua saja. Lagian anak saya sehat-sehat saja, ngapain disuntik yang saya tidak tahu isinya apa. Halalnya juga tidak jelas," ujarnya.

Kendati demikian, Tika mengaku bukan tidak mau mengikuti program pemerintah. Namun ia hanya minta semua kejelasan dari pihak terkait.

"Jelaskan dulu status halalnya, keamanannya, tanggung jawabnya. Sekarang kan semua tidak jelas. Anak saya bukan kelinci percobaan," kesalnya.

Tika, yang mengaku jebolan hukum, memaparkan alasan penolakannya didasari sandaran konstitusi.

"Semua warga negara berhak menolak segala upaya kebohongan, paksaan, ancaman, intimidasi. Gak main-main loh Mas, UU Internasional, UUD 1945, dan UU lain mengaturnya," papar Tika.

Ia pun meminta pihak terkait melaksanakan amanah UU Keterbukaan Informasi Publik terkait kandungan vaksin.

"Emang Mas tahu apa saja kandungan vaksin. Enggak kan? Selama ini ditutupi, dibagus-bagusin, tapi kita lihat kemasan vaksinnya saja tidak boleh. Padahal ini hak konsumen kan. Kenapa ditutupi. Ini saja sudah melanggar UU," jelasnya.

Bukankah imunisasi hak anak? Ditanya itu, ia malah tertawa.

"Hak apanya Mas? Kok hak anak cuma vaksin. Yang tahu kondisi anak itu orangtua. Sekarang kemana tenaga kesehatan saat anak saya butuh hak kasih sayang, agama, pendidikan, kesehatan. La wong kalau jadi korban setelah divaksin tidak tanggung jawab. Halalnya saja tidak jelas. Hak apanya," kesal Tika.

Sebelumnya, Wasekjen MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnain meminta pihak terkait untuk menghentikan sementara program ini sampai status kehalalannya jelas.

"Vaksinnya tidak halal. Sudah setahun MUI minta sampel vaksinnya pada Kemenkes untuk diuji tapi tidak diberikan. Dengan ini MUI menyatakan kalau ada Fatwa halal vaksin MR dan Difteri, itu sebuah kebohongan. Bohong. Jangan bohongi rakyat," tegas Kiai Tengku.

Di sejumlah daerah program ini dihentikan sementara sambil menunggu keputusan pembicaraan antara MUI dan Kemenkes pada tanggal 8 mendatang.

Dalam catatan Klik, sedikitnya ratusan anak dan bayi menjadi korban setelah divaksin di Jawa, tahun lalu. Baik usai vaksin difteri maupun MR atau rubella.

Dari yang muntah, pusing, mual, bengkak, ruam, lumpuh, sampai meninggal dunia. Sebelum divaksin mereka semua sehat. Namun, tidak satu pun dari mereka dianggap sebagai korban KIPI.

Reporter : Deden    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0