20 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sehat Ceria, Usai Divaksin MR Bocah Balikpapan Ini Tak Bisa Jalan Normal


Sehat Ceria, Usai Divaksin MR Bocah Balikpapan Ini Tak Bisa Jalan Normal
Selvia Az Zahra, merintih ngilu. (Klik)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Entah peringatan seperti apa yang bisa mengetuk nurani kita saat banyak jatuh korban setelah divaksin MR, tapi program ini masih saja diteruskan. Tak ada evaluasi sama sekali.

Kali ini Selvia Az Zahra usia 6,5 tahun  bocah kelas I SD 019 Gunung Samarinda, Balikpapan yang menjadi korban. Sebelum disuntik ia sehat ceria. Namun, sore hari ia merintih nangis kesakitan. Esoknya tak bisa berjalan.

"Sampai sekarang tidak bisa berjalan normal. Anak saya cacat, Mas. Dimana tanggung jawab petugasnya," tutur Marliani, ibu korban ditemui di rumahnya, Minggu, 19/8/2018.

Marliani juga merasa kesal lantaran Walikota Balikpapan Rizal Effendi telah menghentikan program ini.

"Tapi kenapa anak saya masih disuntik di sekolahnya. Itu pun tanpa izin saya, kan saya yang tahu kondisi anak. Kenapa dipaksa. Ini kan melanggar UU. Melanggar perintah pak Walikota juga. Pak Wali harus memarahi anak buahnya. Setelah anak sakit pun tidak ada yang tanggung jawab. Saya hanya ingin anak saya normal," tutur Marliani.

Selvi, jelas Marliani, disuntik di sekolahnya tanpa izin darinya. Selvi disuntik petugas Puskesmas Gunung Samarinda tanggal 6 Agustus 2018 di sekolahnya, setelah Walikota Rizal meminta penundaan.

"Kenapa Puskesmas dan sekolah mau mengambil hak saya sebagai orangtunya. Izin dulu dong harusnya. Jangan main suntik saja," geram Marliani.

Ia mengetuk hati penguasa agar bisa membantunya. "Pak Walikota Rizal tolong bantuin anak saya. Saya tak minta apa-apa, hanya minta anak saya bisa normal lagi," pinta Marliani, diamini para tetangganya.

"Betul Mas. Tetangga semua tahu Selvi ini sehat dan ceria. Tapi habis disuntik vaksin MR malah gak bisa jalan," sambung Anita, tetangga korban.

Saat KLIK menyambangi rumah korban, para tetangga berduyun-duyun ikut mendampingi keluarga korban. Selvi yang tinggal di rumah ibunya berukuran 3x4 meter, hanya bisa menahan rasa ngilu.

"Sakit, Ma," keluh Selvi, yang sedari tadi mengelus paha kanannya. Ia tidak bisa lagi berjalan normal. Bahkan sekadar meluruskan kaki kanannya juga tidak mampu. Saat diminta berjalan, ia tak kuat menopang badannya. Jalannya terseok-seok.

"Tuh, lihat sendiri kan, Mas. Siapa yang tega melihat anak sehat ceria tau-tau bisa begini. Apalagi perempuan. Semua tetangga di sini tahu Selvi itu lincah," tutur Ami, yang juga tetangga korban.

Apa tanggapan sekolah dan pihak Puskesmas? Ani bercerita, tidak ada tanggung jawab apapun dari pihak terkait. Dari sekolah hanya disarankan ke Puskesmas.

Setelah ke Puskesmas Gunung Samarinda dan menemui dokter yang menyuntiknya, lanjut Marliani, hanya dibilang bukan terkait vaksin.

"Ada tiga orang dokter tapi ngomongnya bahasa Inggris. Berkode gitu. Saya gak ngerti. Cuma bilang, 'ibu jangan bilang siapa-siapa kalau anaknya habis diimunisasi MR'. Kok menutupi gitu sih," kesalnya.

Marliani melanjutkan, jelas-jelas anaknya sehat sebelum divaksin. Usai divaksin merintih, demam, pusing, lalu tak bisa jalan.

"Kok dokternya bilang mungkin penyakitnya datang bersamaan saat disuntik. Kan aneh Mas. Saya gak terima lah jawabannya aneh," kesalnya. Anaknya pun dirujuk ke RSUD Gunung Malang.

Di sana diberi obat anti nyeri gratis. "Lalu dibilang anak saya ikut terapi saja dengan biaya sendiri. Katanya bukan karena vaksin. Tapi kok tidak diperiksa hanya diminta kakinya diluruskan," sesalnya.

Ani pun bingung dokter hanya menyarankan agar anaknya ikut terapi dengan biaya sendiri. Ia juga diminta membuat BPJS. "Kan BPJS bayar juga. Saya uang dari mana?" tuturnya. Marliani mengaku tidak memiliki biaya untuk menyembuhkan anaknya.

Terlebih ia sendiri terpaksa berhenti bekerja untuk mengurus anaknya. "Mau kerja gimana, anak saya cacat begini. Suami sudah misah," ujarnya.

Ia hanya berharap pihak terkait membantu anaknya untuk kembali normal.

Anita, tetangga korban pun berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk menyembuhkan Selvi.

Bagi siapapun yang berkenan memberi donasi bisa kirim ke Rekening BCA: 7810167267 atas nama Anita Nurdin. 

Selvi yang beralamat di Jalan Payau Gang Merpati RT 33 No.14 Muara Rapak, Balikpapan Utara, hanya bisa meringis kesakitan. Sudah sepekan ia tidak bisa sekolah.

"Gimana mau sekolah, Mas. Tiap malam teriak-teriak kesakitan kayak orang gila. Jalan saja susah," jelas Marliani.

KLIK JUGA: Pak Walikota Rizal Tolong Bantu Sembuhkan Anak Saya

Reporter : Bowo    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0