20 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Selvi, Bocah Balikpapan Korban Vaksin MR: Ngilu Ma...


Selvi, Bocah Balikpapan Korban Vaksin MR: Ngilu Ma...
Selvi (6,5) tak lagi mampu berjalan normal setelah disuntik vaksin MR atau Rubella. (Klik)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Selvi Az Zahra, gadis manis berusia 6,5 tahun tak pernah menduga jika tanggal 6 Agustus 2018, menjadi hari naasnya.

Memakai baju kembang-kembang, Selvi hanya bisa merintih di sudut ruangan sekitar 3x4 meter. Wajahnya menahan sakit, tangannya mengelus-elus paha kanannya. Kaki kanannya tak bisa diluruskan.

Minggu, 19/8/2018 sore, KLIK mengunjungi kediaman Selvi di Gang Merpati RT 33 No.14 Muara Rapak, Balikpapan Utara.

Ditemani ibunya Selvi, Marliani, sejumlah tetangga dan perwakilan RT, mereka mencurahkan segala kegundahan yang menimpa siswi kelas 1 SD 019 Gunung Samarinda, ini.

"Coba berdiri," pinta Marliani pada buah hatinya. Gadis kecil itu mencoba berdiri, namun tak bisa tegak lurus seperti anak normal lainnya. Pinggul dan pahanya kesakitan.

Selvi merintih, "Ngilu, Ma. Sakit...," rintih Selvi. KLIK pun memegangi tubuh Selvi dan mengajaknya duduk kembali.

"Ini begini habis divaksin MR di sekolahnya Mas. Sebelum ini Selvi sehat, ceria, lincah," ujar Marliani, diamini para tetangganya.

KLIK JUGA: Usai Divaksin MR, Bocah Balikpapan Tak Bisa Jalan Normal

Ada Ibu Ami, Anita, Risma, dan beberapa ibu-ibu lain yang renta. Rumahnya yang kecil, disesaki tetangga yang ingin menjenguk Selvi.

"Saksinya semua tetangga di sini, Mas. Selvi ini anak yang sehat. Seneng main ke sana kemari tapi setelah divaksin MR malah cacat begini. Gak bisa sekolah, gak bisa ngaji, nafsu makannya juga berkurang," timpal Anita, tetangga Selvi yang membantu merawatnya.

Saat KLIK menanyakan Selvi kronologisnya, lirih disampaikan. "Aku disuntik di sekolah, pulang sekolah sakit semua. Ngilu," tuturnya. Padahal sebelum disuntik baik-baik saja.

Risma, tetangga Selvi ikut menimpali. Ia berkisah, usai pulang sekolah menemukan Selvi nangis sendirian. "Saya kira kelaparan, dipukul atau jatuh. Tapi Selvi bilang ngilu habis disuntik di sekolah," jelas Risma.

Awalnya ia masih tak percaya. Risma masih mengira Selvi menangis kelaparan karena ibunya bekerja. Namun ia baru percaya saat mengajak gadis imut itu berjalan.

"Gak bisa jalan, jongkok begitu. Pas dipaksa pincang. Gak bisa normal," kisah Risma. Ia bingung lantas memanggil tetangganya yang lain.

Saat ibunya pulang, Selvi mengeluh pusing dan demam. "Teriak-teriak kesakitan kayak orang gila," ujar Marliani. Sang ibu masih santai menanggapi keluhan anaknya.

Ia mengira hal itu hanya sebentar. Namun sejak hari pertama disuntik sampai hari ke-13, Selvi masih tak bisa berjalan normal. Berdiri pun kesakitan.

"Saya suruh latihan berjalan tapi kesakitan. Saya bingung juga kalau kebanyakan duduk nanti malah tidak bisa berjalan terus-terusan," keluh Marliani.

Marliani merasa kesal lantaran tidak ada yang bertanggung jawab atas musibah yang menimpa anaknya. Saat melapor ke sekolah, pihak sekolah melempar ke Puskesmas.

Selvi, jelas Marliani, disuntik di sekolahnya tanpa izin darinya. Selvi disuntik petugas Puskesmas Gunung Samarinda tanggal 6 Agustus 2018 di sekolahnya, setelah Walikota Rizal meminta penundaan.

"Kenapa Puskesmas dan sekolah mau mengambil hak saya sebagai orangtuanya. Izin dulu dong harusnya. Jangan main suntik saja," geram Marliani.

Setelah ke Puskesmas Gunung Samarinda dan menemui dokter yang menyuntiknya, lanjut Marliani, hanya dibilang bukan terkait vaksin.

"Ada tiga orang dokter tapi ngomongnya bahasa Inggris. Berkode gitu. Saya gak ngerti. Cuma bilang, 'ibu jangan bilang siapa-siapa kalau anaknya habis diimunisasi MR'. Kok menutupi gitu sih," kesalnya.

Marliani melanjutkan, jelas-jelas anaknya sehat sebelum divaksin. Usai divaksin merintih, demam, pusing, lalu tak bisa jalan.

"Kok dokternya bilang mungkin penyakitnya datang bersamaan saat disuntik. Kan aneh Mas. Saya gak terima lah jawabannya aneh," kesalnya. Anaknya pun dirujuk ke RSUD Gunung Malang.

Di sana diberi obat anti nyeri gratis. "Lalu dibilang anak saya ikut terapi saja dengan biaya sendiri. Katanya bukan karena vaksin. Tapi kok tidak diperiksa hanya diminta kakinya diluruskan," sesalnya.

Sekali pun Selvi tidak diperiksa detil. Tidak dirontgen, tidak pula dilakukan CT Scan. "Cuma disuruh meluruskan kakinya. Lalu dikasih obat," tutur Marliani.

KLIK JUGA: Video Petaka Vaksin MR dalam Catatan Media Massa

Di sela obrolan KLIK dengan ibunya Selvi dan para tetangga, Selvi merintih. "Ngilu, Ma..." Ia pun diminta tiduran. Namun posisi tidurnya miring ke kanan, dan kaki kanannya tetap tak bisa diluruskan.

Marliani menambahkan, rasa sakit Selvi datang tak tentu waktu.

"Kalau sudah berkeringat, ngilunya datang. Setelah itu teriak-teriak nangis gak karuan. Saya takut tak bisa normal lagi. Saya minta tolong pada siapa saja yang bisa membantu anak saya," ujar Marliani.

Di samping Marliani, Selvi masih tampak menahan kesakitan. Bibirnya digigit, wajahnya muram, kaki kanannya dielus-elus.

KLIK tak kuat menahan diri lama-lama melihat derita Selvi. Kemudian, pamit undur diri dari kediaman rumahnya.

KLIK JUGA: Pak Walikota Rizal Tolong Bantu Sembuhkan Anak Saya

Reporter : Bowo    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0