22 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Soal Vaksin MR, Warga: Darurat kok Direncanakan


Soal Vaksin MR, Warga: Darurat kok Direncanakan
Ilustrasi vaksin. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO – Keluarnya Fatwa Haram MUI Nomor 33 tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari India, membuat masyarakat Muslim bernafas lega.

Namun, masih ada kelompok yang memaksakan agar bahan najis dan haram itu tetap dimasukan ke tubuh anak-anak. Tak terkecuali anak-anak Muslim. Alasannya karena kondisi darurat.

Menanggapi makna darurat, warga MT Sumber Rejo, Balikpapan, Hasan, malah tertawa. Menurutnya, program vaksin MR sudah berjalan tahun 2017 di Jawa. Lalu tahun ini di Luar Jawa.

“Artinya program ini sudah direncanakan kan, Mas. Terus daruratnya gimana? Darurat kok direncanakan. Lah, kemarin saja akhirnya ditunda. MUI pun mengeluarkan Fatwa Haram. Darurat apanya? Darurat kok bisa direncanakan, darurat kok bisa ditunda?” tuturnya tertawa.

Hasan berujar, program vaksin berlangsung setiap tahun. “Masa darurat tiap tahun, ada-ada saja alasannya. Apalagi yang divaksin anak-anak yang sehat, bukan anak yang sekarat. Apanya Mas yang darurat?” Hasan malah balik bertanya, 22/8/2018.

Hal senada diutarakan praktisi pendidikan Islam, Ria. Ia malah menjelaskan pada KLIK tentang kandungan vaksin MR. “Mas mengikuti berita di luar negeri tentang vaksin ini tidak?” tanyanya.

Ria mengatakan, vaksin MR ini ditolak di negara asalnya, India. Alasannya karena banyak memakan korban. “Begitu pula korban di Pakistan, Afrika dan Indonesia. Tapi di sini tidak pernah diakui sebagai korban KIPI. Tidak pernah fair. Hebat sekali Indonesia bisa zero KIPI, kalah Amerika. Bisa jadi rujukan WHO dong,” sindirnya. Ia menambahkan, itu karena semua korban KIPI tak pernah diakui. Berbeda dengan di luar negeri. Di sana, katanya, jauh lebih fair.

Menurut Ria, korban setelah divaksin diakui dengan jujur dan terbuka. “Bahkan dibiayai, diberi kompensasi sampai miliaran. Di Fhilipina hanya tiga korban KIPI, vaksinnya langsung ditarik dari peredaran, yang terlibat programnya diseret ke hukum. Di Indonesia? Korban dimana-mana tapi jangankan dikasih miliaran, diakui saja tidak.”

Ria mengingatkan, “Belum lama warga Balikpapan kena KIPI juga kan? Tapi apakah diakui? Enggak kan. Masa alasannya karena yang disuntik tangan terus kaki yang sakit, lalu itu bisa menjadi diagnosa bukan KIPI. Jelas-jelas anaknya sehat, habis divaksin tak bisa jalan normal. Terus dianggap bukan KIPI. Malu-maluin Indonesia banget sih alasannya,” ujarnya.

KLIK JUGA: Derita Selvi, Bocah Balikpapan Korban Vaksin MR: Ngilu Ma...

Ia mengingatkan, banyaknya korban setelah disuntik vaksin MR diakibatkan karena melawan hukum agama. “Alhamdulillah akhirnya keluar Fatwa Haram. Tapi masih mau diteruskan karena alasan darurat. Yang dimaksud darurat apa? Coba Mas buka matanya, buka hatinya, media harus adil dong. Lihat korban-korban setelah divaksin yang tadinya mereka sehat malah sakit dan ada yang meninggal setelah disuntik vaksin MR. Harusnya ya dihentikan karena banyak korban KIPI, tapi tak diakui. Indonesia darurat kejujuran, Mas,” kesalnya.

KLIK jutsru ‘disemprot’ saat menanyakan adanya kebolehan dalam vaksin MR ini. “Haram ya haram. Memangnya anak-anak Balikpapan pada sekarat, lalu dianggap darurat. Haram kok masih boleh, ya itu karena mungkin media Mas dibayar,” ujarnya, lalu mohon undur diri pada KLIK.

Begitu pula dengan Ramli, warga Gunung Samarinda. Ia juga tidak sepakat saat ini dianggap kondisi darurat hanya demi meneruskan program vaksin MR yang difatwakan haram.

Menurutnya MUI sudah tegas dan jelas dengan mengeluarkan Fatwa Haram vaksin MR. “Memangnya Mas mau anaknya dimasukin cairan mengandung babi dan janin. MUI kan jelas, haram. Masih mau maksain? Anak-anak Balikpapan sehat. Obat juga banyak Mas selain vaksin. Jangan ngelantur, zaman sudah canggih kok cuma ngandelin vaksin. Geli saya,” tuturnya.

Ia berujar kondisi saat ini tidak ada kedaruratan. Bahkan Ramli menyarankan kondisi darurat seharusnya diberlakukan bagi korban gempa bumi. “Yang darurat itu korban Lombok. Mereka darurat bantuan. Seharusnya ditetapkan sebagai bencana nasional. Anak-anak Balikpapan sehat dibilang darurat,” ujarnya.

Ramli berpendapat, kondisi darurat itu jika sudah banyak yang sekarat atau terancam nyawanya. “Faktanya gimana Mas, anak-anak Balikpapan baik-baik saja kok. Kalau darurat wabah pun harus ada travel warning. Indonesia sekarang jadi tuan rumah Asian Games, darurat apanya?” ujar Ramli.

Warga meminta Walikota Rizal Effendi tegas melindungi umat Muslim Balikpapan dengan mentaati Fatwa Haram vaksin MR yang dikeluarkan MUI.

Sebelumnya diberitakan, saat fatwa tersebut diputuskan, Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF, menekankan keharaman vaksin MR karena mengandung bahan najis dan haram.

"Benar ada (unsur) organ tubuh manusia (human diploid cell) dan kulit babi," tegas Hasanuddin, Senin, 20/8/2018 malam.

Meski haram, untuk sementara vaksin MR dapat digunakan karena ada kondisi keterpaksaan dan belum ditemukan vaksin pengganti yang halal dan suci. "Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci," Hasanuddin.

Menyoal haram tapi dibolehkan, Wasekjen MUI KH Tengku Zulkarnain, menjelaskan mubah itu boleh digunakan. "Tapi bukan Sunah, bukan juga wajib. Dilakukan tidak mengapa, meninggalkannya juga tak apa-apa. Jadi siapa yang mau divaksin silakan saja, yang menolak juga silakan," jelasnya.

Kiai Tengku menambahkan, "Mubah itu bukan Sunah dan bukan wajib. Yang mau divaksin kalau dirasa butuh, itu boleh. Tapi yang mau menolak karena tidak butuh, boleh juga. Itu namanya lil hajah. Yang tidak boleh itu kalau dipaksakan semua harus ikut vaksin MR, ini tidak boleh karena haram ya tetap haram. Kalau ada yang memaksa bisa dipenjarakan. Tidak boleh memaksa," jelasnya.

KLIK JUGA: Video Petaka Vaksin MR dalam Catatan Media

Reporter : Niken     Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0