20 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Masyarakat Samarinda Banyak Tolak Vaksin MR karena Takut Haram


Masyarakat Samarinda Banyak Tolak Vaksin MR karena Takut Haram
Ilustrasi. (Net)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Selain di Aceh, Sumbar, Sumsel, Tolikara Papua, ternyata di Samarinda Kaltim, juga banyak orangtua siswa yang menolak pemberian vaksin MR.

Kepala Dinas Pendidikan Samarinda Akhmad Hidayat mengakui, banyak dari orangtua murid yang menyampaikan keberatan atas program vaksin gratis dengan alasan kandungan non-halal dalam vaksin tersebut.

"Banyak orangtua siswa yang menolak vaksin ini. Jadi sebagian sekolah ada yang sudah melakukan imunisasi rubella, ada juga yang belum. Kalau mereka menolak, kita engga bisa berbuat apa-apa,” ujar Akhmad, Selasa, 18/09/2018.

Di Samarinda, capaian imunisasi campak Jerman dan Rubella per 17 September 2018 baru mencapai 35,07 persen.

Pencapaian ini terbilang rendah dibanding beberapa wilayah lain seperti Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Barat yang capaian imunisasi MR-nya berada diatas 94 persen.

KLIK JUGA: Warga Balikpapan: Campak Rubella Sudah Ada Sejak Zaman Penjajahan

Salah satu faktor penyebab rendahnya capaian ini ialah penolakan dari orangtua siswa terhadap pelaksanaan imunisasi MR di sekolah-sekolah.

Sebelumnya diberitakan, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa penggunaan vaksin Measles Rubella (MR), produk dari Serum Institute of India (SII), untuk imunisasi.

Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof. Dr. H. Hasanuddin AF., MA. menegaskan penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.

"Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi,” tegasnya usai rapat pleno Komisi Fatwa MUI di kantor pusat MUI, Jakarta, Senin, 20/08/2018.

MUI menegaskan, pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

Komisi Fatwa MUI meminta pemerintah untuk mengupayakan secara maksimal melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

KLIK JUGA: Cakupan Rendah: Pelaksanaan Vaksin Perlu Evaluasi, Bukan Memaksa

Reporter : Nina Karmila/ Int    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0