15 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sambil Nangis, Ayah Korban Vaksin MR Tuntut Pertanggung Jawaban


Sambil Nangis, Ayah Korban Vaksin MR Tuntut Pertanggung Jawaban
Suyanto, ayah korban vakson MR. (Ist)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Suyanto (58), tubuhnya dikalungi poster bertuliskan, "Anakku Korban Suntik Rubella, Menuntut Keadilan untuk Anakku Wildan". Poster itu mengelilingi tubuhnya depan dan belakang.

Dalam posternya, ia menggambar sebuah suntikan untuk mengilustrasikan vaksin MR. Aksi Suyanto yang bercucuran air mata mengundang para pewarta dari pelbagai media lokal dan nasional.

Ia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di Kota Kediri. Pria asal Desa Sumberjo Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, ini berjalan dari Gedung GNI Kota Kediri hingga menuju Dinas Kesehatan Kota Kediri tepatnya di Jalan RA. Kartini No 7, Selasa, 6/11/2018.

Suyanto hanya ingin menyuarakan tuntutannya dengan berjalan kaki dari rumahnya hingga ke Kota Kediri. Selasa, 6/11/2018, KLIK mendapat kiriman percakapan Suyanto dengan Aktivis Kemanusiaan Thinker Parents.

Suyanto menjelaskan, kejadian yang menimpa anaknya, W (12), santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri itu bermula pada hari Rabu (24/10/2018) seusai disuntik vaksin MR dari Puskesmas Campurejo Kediri.

Suyanto mengungkapkan anaknya mengalami kelumpuhan pada organ tubuh bagian kedua kaki dan kedua belah tangannya setelah dilakukannya suntik imunisasi pada saat itu.

"Setelah dilakukan suntik imunisasi, anak saya malam harinya mengeluhkan kedua kaki dan tangannya sulit digerakkan. Selang dua hari setelah mendapat kabar itu, saya berkunjung ke Pondok dan langsung membawa anak saya ke Puskesmas Campurejo," ujarnya.

Sampai Pondok ia sangat terkejut. "Saat itu anak saya tiba-tiba lumpuh tak dapat bergerak sama sekali," ujar Suyanto.

"Loh Pak, anak saya kok tidak bisa berjalan kenapa ini. Siapa yang bertanggung jawab?" tanya Suyanto pada guru anaknya. Setelah itu, kisah Suyanto, ia mendapat penjelasan jika anaknya setelah disuntik vaksin MR langsung lumpuh.

Kemudian dibawa ke Puskesmas Campurejo, tapi ternyata pihak Puskesmas tidak mampu untuk menangani dan merujuk ke rumah sakit.

"Harusnya kan diantarkan bidan, tapi ini tidak. Anak saya pun dinaikan motor, bukan ambulance. Saya heran. Padahal kaki anak saya lemah sekali," curhatnya.

Ia mengisahkan, ternyata pihak rumah sakit juga menyuruhnya untuk merujuk ke rumah sakit lain. Alasannya fasilitas kurang memadai.

Ia pun menangis meminta keadilan. Ia tidak tahu siapa yang mau tanggung jawab dan malah dilempar ke sana ke sini. Bahkan, akhirnya sang anak dirujuk ke rumah sakit yang berbeda kota dari asalnya dan Pondok.

"Anak saya kembali dirujuk di RSUD dr Saiful Anwar Malang hingga saat ini. Kondisi anak saya juga masih lumpuh total," ungkap Suyanto dengan menangis.

Karena itu tujuan Suyanto mendatangi Dinas Kesehatan Kota Kediri menuntut pertanggung jawaban Dinas Kesehatan dan meminta tanggungan biaya pengobatan hingga anaknya sembuh.

Kini pengobatan anaknya menggunakan plasmapheresis yang berisi empat paket. Satu paket ada delapan botol, harga per paket 25 juta.

Lantaran itu, ia nekat berjalan kaki 2 Km sambil bercucuran air mata. Untungnya, Suyanto memiliki kenalan LSM. Pihak LSM pun bergerak cepat untuk menghubungi para wartawan.

Dari Tulung Agung, ia berjalan kaki ke kota anaknya yang menyantri di Kediri. Namun akhirnya sang anak harus dirawat di rumah sakit Kota Malang.

"Kedatangan saya kemari menuntut Dinas Kesehatan membiayai pengobatan anak kami yang saat ini di rawat di RSUD dr Saiful Anwar. Total biayanya mencapai Rp 120 juta. Sedangkan BPJS hanya mampu membiayai sebesar Rp 17 juta saja," isaknya.

Ia menyampaikan, "Jika kami disuruh membayar biaya sebesar itu, kami bingung. Uang dari mana untuk mencari sabanyak itu," tutur Suyanto.

Suyanto mengaku sempat Dr. H. Rizal Amin perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Kediri. Namun pihak Dinkes juga tidak bisa memutuskan perihal biaya pengobatan itu.

Padahal, menurut Suyanto, anaknya tak pernah mempunyai penyakit kronis. "Anak saya tak pernah memiliki riwayat penyakit kronis. Namun satu hari sebelum dilakukan suntik imunisasi, anak saya dalam keadaan baru sembuh dari penyakit panas (demam)," jelas Suyanto.

Kejadian Suyanto, persis dengan yang dialami Selvi Az Zahra, gadis manis berusia 6,5 asal Balikpapan yang juga tidak bisa jalan usai disuntik vaksin MR.

Diberitakan sebelumnya, Minggu, 19/8/2018 sore, KLIK mengunjungi kediaman Selvi di Gang Merpati RT 33 No.14 Muara Rapak, Balikpapan Utara.

Ditemani ibunya Selvi, Marliani, sejumlah tetangga dan perwakilan RT, mereka mencurahkan segala kegundahan yang menimpa siswi kelas 1 SD 019 Gunung Samarinda, ini.

"Coba berdiri," pinta Marliani pada buah hatinya. Gadis kecil itu mencoba berdiri, namun tak bisa tegak lurus seperti anak normal lainnya. Pinggul dan pahanya kesakitan.

Selvi merintih, "Ngilu, Ma. Sakit...," rintih Selvi. KLIK pun memegangi tubuh Selvi dan mengajaknya duduk kembali.

"Ini begini habis divaksin MR di sekolahnya Mas. Sebelum ini Selvi sehat, ceria, lincah," ujar Marliani, diamini para tetangganya.

Lantas, sampai berapa banyak korban vaksin MR berjatuhan? Dan mereka tidak pernah diakui sebagai korban KIPI. Padahal sebelum vaksin sehat, lalu tanpa ada pemeriksaan kesehatan langsung divaksin.

Saat jadi korban, buru-buru menyangkal akibat vaksin. Ajaib bukan? Dan orangtua yang selalu menanggung bebannya.

Reporter : Dicky Sera    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0