15 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ini Deretan Korban Vaksin MR yang Lumpuh Usai Disuntik


Ini Deretan Korban Vaksin MR yang Lumpuh Usai Disuntik
Ayah korban vaksin MR, yang anaknya lumpuh. (Ist)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Bayi dan anak-anak Indonesia yang sehat, tiba-tiba harus disuntik vaksin MR atau campak dan rubella. Padahal tidak semua kondisi tubuh sama. Tapi tetap dipaksa dimasuki bahan kimia yang sama.

Vaksin yang berisi virus itu pun, juga mengandung unsur babi dan organ tubuh manusia. Pada tanggal 19 Agustus 2018, MUI Kalbar menegaskan hasil Pleno MUI Pusat tanggal 15 Agustus: kandungan vaksin MR memiliki unsur babi dan janin.

Tanggal 21 Agustus, MUI Pusat mengeluarkan Fatwa 33/2018 yang menegaskan vaksin MR asal SII (India) haram.

Pelaksanaan vaksin MR itu pun tetap digelar meski banyak penolakan. Alhasil, barang haram yang dipaksakan itu bukannya menjadikan anak-anak sehat, tapi usai vaksin ada yang demam, ruam, diopname, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal sebelumnya sehat. Dan mereka tak pernah diakui sebagai korban KIPI.

Anak-anak sehat yang divaksin itu pun, di beberapa daerah dilakukan tanpa izin orangtua. Akibatnya tidak sedikit yang malah jadi korban KIPI. Apalagi sebelum divaksin tidak ada pemeriksaan kesehatan komprhensif.

Sedangkan untuk memvaksin hewan saja, harus diperiksa kesehatannya dulu. Beberapa anak sehat yang divaksin MR pun tiba-tiba tak bisa bergerak, tak bisa berjalan, kakinya lumpuh mendadak.

Ini sederet kasus korban vaksin MR yang terekam media:

1. Siswi SMPN 4 Demak, Niken Angelia mengalami kelumpuhan setelah mendapat vaksin MR di sekolahnya,15/8/2017. Korban vaksin MR pertama ini sempat menjadi isu nasional.

2. Kinanti Engelika (2,5) bocah asal Garut juga lumpuh setelah divaksin MR. Ia divaksin pada 13 September 2017. Ai Lisna ibu korban, pada awak media mengungkapkan, sebelum divaksin anaknya sehat.

Lalu disuntik vaksin MR. "Tapi lima hari kemudian anak saya jadi lumpuh," ujar warga Kampung Kondangsari, Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, kabupaten Garut. Anaknya pun harus masuk ruang ICU RSUD dr Slamet.

Direktur RSUD dr Slamet, Garut, Maskut Farid, menyatakan, Kinanti pertama kali masuk ke rumah sakit pada 4 Oktober 2017. Saat masuk, Kinanti mengeluh sesak napas, batuk, dan sebagian tubuh mengalami lumpuh layu.

3. Giliran Helmi (7), bocah Banda Aceh juga harus mengalami kelumpuhan usai divaksin MR. "Waktu pergi ke sekolah tanggal 1 Agustus ada imunisasi. Anak saya ikut diimunisasi juga padahal sudah saya bilang sama guru anak saya demam," kata Dewi saat ditemui wartawan di RSU Zainal Abidin Banda Aceh, Selasa, 14/8/2018.  

4. Hal sama dialami Iqbal yang disuntik vaksin MR pada Senin, 27/8/2018. Setelah divaksin, kepada orangtuanya Iqbal mengaku sakit kepala. Setelah diserang sakit kepala, tangannya juga sulit digerakkan. Tangannya melemah, hingga benar-benar mati rasa.

Ia dilarikan ke RSUP M Djamil Padang.  Iqbal harus rela dibawa ke ruang HCU Anak. Ia mengalami kelumpuhan pada tangan kiri, tak lama setelah mendapat suntikan vaksin MR di sekolahnya. 

5. Giliran Fauziah Larasati (9), siswi Sekolah Dasar Negeri Nomor 37 Kampung Opas, Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. Ia dilarikan ke rumah sakit setelah divaksin MR.

Ayahanda Fauziah, Abdul Halim mengatakan, anaknya memperlihatkan gejala demam dan timbul sejumlah bercak merah di kaki, 25/8/2018.

Fauziah disuntik vaksin MR di sekolahnya pada 18 Agustus 2018. Ia terpaksa dilarikan ke UGD RSUD Pangkal Pinang akibat kelumpuhan mendadak setelah diberi vaksin.

"Tolong kalau berbahaya jangan diberikan kepada anak. Saya minta pemerintah bertanggungjawab dari sekolah juga, karena ini program pemerintah," desak Abdul Halim pada media, ayah dari Nurfauziah Larasati (9), yang anaknya tidak bisa jalan usai disuntik vaksin MR.

Laras terus menangis menahan rasa ngilu pada betis kiri dan kanannya paska disuntik Vaksin Measles Rubella di sekolah Sabtu, 25/8/2018. Bahkan ruam merah itu juga mulai bermunculan di bagian tangannya.

"Pusing, ngilu, kakinya kaku,” lirih Laras sambil sesekali menangis menahan sakitnya, dilansir Bangka Pos, Rabu, 29/8/2018.

6. Selvi Az Zahra, gadis manis berusia 6,5 asal Balikpapan juga sempat tidak bisa jalan usai disuntik vaksin MR.

Minggu, 19/8/2018 sore, KLIK mengunjungi kediaman Selvi di Gang Merpati RT 33 No.14 Muara Rapak, Balikpapan Utara.

Ditemani ibunya Selvi, Marliani, sejumlah tetangga dan perwakilan RT, mereka mencurahkan segala kegundahan yang menimpa siswi kelas 1 SD 019 Gunung Samarinda, ini.

"Coba berdiri," pinta Marliani pada buah hatinya. Gadis kecil itu mencoba berdiri, namun tak bisa tegak lurus seperti anak normal lainnya.

Selvi merintih, "Ngilu, Ma. Sakit...," rintih Selvi. KLIK pun memegangi tubuh Selvi dan mengajaknya duduk kembali.

"Ini begini habis divaksin MR di sekolahnya Mas. Sebelum ini Selvi sehat, ceria, lincah," ujar Marliani, diamini para tetangganya.

7. Wildan, warga asal Tulung Agung ini pun bernasib lebih parah. Usai disuntik, tak bisa berjalan. Ia dibawa ke Puskesmas Kediri, kota tempat ia mondok. Saat dirujuk, Wildan hanya diantar dengan motor.

Ayah Wildan, Suyanto (58), protes atas nasib yang menimpa anaknya. Setelah divaksin tiba-tiba lumpuh. Selasa, 6/11/2018, ia melakukan aksi demo seorang diri meminta tanggung jawab pihak terkait.

Suyanto berjalan kaki 2 Km ke kantor Dinas Kesehatan Kediri, tubuhnya diikalungi poster bertuliskan, "Anakku Korban Suntik Rubella, Menuntut Keadilan untuk Anakku Wildan". Poster itu mengelilingi tubuhnya depan dan belakang.

Dari Tulung Agung, ia berjalan kaki ke kota anaknya yang menyantri di Kediri. Namun akhirnya sang anak harus dirawat di rumah sakit Kota Malang.

"Kedatangan saya kemari menuntut Dinas Kesehatan membiayai pengobatan anak kami yang saat ini di rawat di RSUD dr Saiful Anwar. Total biayanya mencapai Rp 120 juta. Sedangkan BPJS hanya mampu membiayai sebesar Rp 17 juta saja," isaknya.

Ia menyampaikan, "Jika kami disuruh membayar biaya sebesar itu, kami bingung. Uang dari mana untuk mencari sabanyak itu," tutur Suyanto.

Selasa, 6/11/2018 malam, Andini ibu dari salah satu korban vaksin juga menumpahkan kegundahannya. Ia geram melihat pemberitaan aksi Suyanto yang meminta tanggung jawab harus dengan aksi jalan kaki dan tangis air mata.

"Anak si bapak  Suyanto kena Kipi Persis seperti anakku Guilanbaree Syndrome . Bapak ini bilang anaknya mengalami kelumpuhan di kaki, nah si bapak sampe rela jalan kaki karena anaknya butuh Plasmapheresis. Ini memang tidak dtanggung BPJS," ujarnya.

Ia melanjutkan, "Kalau Plasmapheresis tak mempan bisa harus suntik Immunoglobulin dan ini bisa menghabiskan biaya ratusan juta.  Jangan bilang lebay karena kedokteran cuma kenal dua obat ini saja sebagai terapinya. Kalau ga ditangani dengan ini terlambat bisa kena saraf tepi yang berakibat cacat permanent atau meninggal dunia."

Suyanto sendiri mengakui, anaknya berobat dengan Plasmapheresis seperti yang dipaparkan Andini. Sedangkan obat itu ada empat paket, satu paket berisi delapan botol. Harga per paket Rp 25 juta.

Mengacu data UNICEF dan Kemenkes RI (2017), menyebut kasus campak di Indonesia selama lima tahun berjumlah 23.164 kasus, yakni dari 2010-2015.

Jika dirata-rata, setahun hanya ada 4.603 kasus. Tapi, sasaran vaksin MR 66.859.112 anak.

Dengan kasus hanya 4 ribu, lalu yang disasar 66 juta lebih anak. Dengan kata lain, 66.854.509 anak sehat harus disuntik bahan kimia sama, yang berisi virus dan mengandung unsur babi serta organ tubuh manusia.

Fakta-fakta tentang anak-anak yang sehat lalu mendadak lumpuh setelah divaksin MR, hanyalah fenomena gunung es. Deretan anak lumpuh usai vaksin MR ini hanya yang jejaknya terekam media. Ini belum termasuk yang opname biasa atau bahkan meninggal dunia.

Itu pun tidak ada yang diakui sebagai korban KIPI, kecuali kasus di Papua. Ajaib bukan?

Reporter : Dicky Sera    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0