21 Februari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

PHRI: Kenaikan Harga Tiket Pesawat Ganggu Sektor Wisata dan Perhotelan


PHRI: Kenaikan Harga Tiket Pesawat Ganggu Sektor Wisata dan Perhotelan
Ketum PHRI, Haryadi bersama Jokowi. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Ketum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI, Haryadi Sukamdani mengatakan sektor pariwisata Indonesia terganggu karena masalah melambungnya harga tiket pesawat.

Menurutnya itu dipicu karena dihapuskannya harga tiket kelas promo menjadi harga normal sehingga kenaikan rata-rata harga tiket mencapai 40 persen.

"Lalu ditambah sejumlah maskapai yang mengenakan kebijakan bagasi berbayar. Ini menjadikan harga tiket maskapai asing justru lebih murah," ujar Haryadi di hadapan Presiden Joko Widodo saat perayaan HUT ke-50 PHRI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin malam, 11/2/2019.

"Selain itu dengan bergabungnya Sriwijaya Air ke kelompok Garuda dan Citilink menjadikan di Indonesia hanya ada dua kelompok penerbangan yakni kelompok Garuda dan kelompok Lion Air sehingga mengarah pada terjadinya kartel," katanya.

Pihaknya berharap pemerintah dapat mengatasi persoalan-persoalan di dunia pariwisata sehingga pariwisata Indonesia akan bisa berdaya saing tinggi.

Selain sektor wisata, Haryadi melanjutkan, naiknya harga tiket penerbangan domestik juga memberikan pengaruh bagi usaha penginapan.

Salah satu dampaknya adalah menurunnya tingkat hunian hotel di daerah wisata domestik.

"Kondisi harga tiket yang mahal ini telah mengakibatkan berkurangnya perjalanan masyarakat yang berakibat menurunnya hunian hotel 20-40 persen," ujarnya.

Ia mengungkapkan, mahalnya harga tiket penerbangan domestik membuat masyarakat lebih memilih berlibur ke luar negeri.

Haryadi juga menyebut, masalah itu sebenarnya telah dirasakan sejak awal Januari.

"Sebagian masyarakat kita lebih memilih berlibur di luar negeri yang mengakibatkan keluarnya devisa," lanjutnya.

Tak hanya itu, kebijakan maskapai yang tak lagi memberikan bagasi gratis juga dianggap menurunkan pendapatan UMKM. Sebab, para wisatawan akan berpikir ulang saat akan membeli oleh-oleh dari para pengrajin.

"Ketentuan bagasi berbayar telah menyebabkan menurunnya omset oleh-oleh yang menampung produk UMKM yang dikelola perusahaan UMKM," jelas Haryadi.

Untuk itu, ia berharap pemerintah bisa segera mencari solusi terbaik. Salah satunya adalah dengan menurunkan biaya bahan bakar avtur sehingga harga tiket penerbangan pun bisa ditekan.

"Kami berharap pemerintah dapat segera mencarikan solusi terhadap kondisi ini," tandasnya.

Reporter : Nina Karmila/ Int    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0