26 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ini Hasil Investigasi KNKT Terkait Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan


Ini Hasil Investigasi KNKT Terkait Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan
Pencemaran minyak di Teluk Balikpapan. (AFP)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Komisi Nasional Keselamatan Transportasi mengumumkan hasil final investigasi ihwal pencemaran minyak di Teluk Balikpapan.

Pencemaran itu dampak patahan pipa minyak mentah Pertamina terkena jangkar MV Ever Judger. Salah satu sebabnya, terjadi miskomunikasi awak kapal dengan pemandu KSOP Balikpapan.

MV Ever Judger berbendera Panama pada 30 Maret 2019 seharusnya berangkat meninggalkan Balikpapan. Namun lantaran terjadi kerusakan kapal, keberangkatan batal.

Awak kapal kemudian berkomunikasi dengan pemandu KSOP Balikpapan. Ada pemahaman berbeda antara awak kapal dan pemandu, perihal lokasi dan kedalaman penurunan jangkar di Teluk Balikpapan.

"Pada jam 22.50 kapal labuh jangkar, di lokasi yang disepakati. Saat itu, belum terjadi bau minyak," kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, dalam keterangan resminya, kemarin.

Memasuki 31 Maret 2018 dini hari, terjadi masalah pada pompa minyak Pertamina, di Lawelawe, Penajam Paser Utara, berupa penurunan level minyak mentah.

"Sekitar jam 02.30 petugas Pertamina, menemukan ceceran minyak di sekitar area jeti, belum diketahui sumbernya, hingga pada pagi harinya ditemukan ceceran minyak dalam jumlah besar di Teluk Balikpapan," ujar Soerjanto.

Soerjanto menjelaskan, pihaknya telah mengulas secara komprehensif mengenai akar masalah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

"Tim investigasi telah menganalisis secara mendalam berdasarkan sudut pandang regulasi dan implementasi ketika kejadian berlangsung," paparnya.

Menurutnya, komunikasi yang dilakukan antara pihak KM Ever Judger dengan dua kapal pandu Anggada dan Antasena ketika itu menggunakan dua bahasa yang berbeda. yakni bahasa Inggris dan China.

"Komunikasi nakhoda ke kapal pandu pakai bahasa Inggris, sedangkan sesama awak kapal KM Ever Judger pakai bahasa China," jelasnya.

Ketika itu, nahkoda mendengarkan perintah menurunkan jangkar 1 meter di atas air. Namun ketika diteruskan informasi ke mualim, jangkar justru diturunkan sebanyak 1 segel atau sekitar 27 meter dalam air.

"Jadi, ada kesalahan komunikasi. Artinya, perintah itu diartikan salah oleh mualim dan ketika jangar turun, akhirnya sangkut di pipa, kemudian pipa itu patah dan mengeluarkan minyak mentah ke permukaan Teluk Balikpapan," terangnya.

Sehingga KNKT menyimpulkan, terjadinya polusi minyak di perairan Teluk Balikpapan karena kurangnya penerapan Bridge Resource Management untuk keselamatan navigasi di atas KM Ever Judger, disertai penanganan kedaruratan yang tidak tepat.

"Kondisi ini memberikan andil pada benturan antara jangkar kapal dengan pipa penyalur minyak mentah berdiameter 20 inchi di dasar teluk," bebernya.

Dengan hasil itu, pihaknya mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya, bagi Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk melakukan sinkronisasi tentang peraturan pipa bawah laut.

"Termasuk rekomendasi untuk Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Balikpapan," tegasnya.

Rekomendasi itu berupa peninjauan ulang prosedur tanggap darurat terhadap Tier 1 perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di Teluk Balikpapan.

Tier 1 adalah kategorisasi penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak yang terjadi di dalam atau di luar Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan.

Reporter : Nina Karmila/ Int    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0